JAKARTA, (kabaristana.com) – Pemerintah mempercepat pembangunan tanggul laut di Pantai Utara (Pantura) Jawa. Langkah ini bertujuan menjaga kawasan pangan dan menghadapi kenaikan muka air laut.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menegaskan arah kebijakan tersebut. Ia menyatakan pemerintah tidak hanya melindungi kawasan industri. Selain itu, pemerintah juga menjaga lahan pertanian dari ancaman intrusi air laut.
Ia menjelaskan kondisi sawah di Jawa kini menghadapi tekanan. Dari total 1,5 juta hektare lahan, sekitar 115 ribu hektare sudah mengalami dampak. Karena itu, pemerintah berupaya menekan risiko yang lebih luas.
Pemerintah lalu mendorong modernisasi pertanian. Program ini meliputi perbaikan irigasi dan pengembangan variasi tanaman. Dengan langkah ini, petani dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.
Sementara itu, Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) menyusun rencana induk perlindungan pesisir. Kepala BOPPJ, Didit Herdiawan Ashaf, memimpin penyusunan tersebut. Tim juga melibatkan kementerian, akademisi, dan tenaga ahli agar rencana lebih matang.
Di sisi lain, Prabowo Subianto menetapkan proyek tanggul laut sebagai Proyek Strategis Nasional. Bahkan, proyek Giant Sea Wall akan membentang di sepanjang Pantura Jawa.
Ia menyoroti kenaikan muka air laut sekitar 5 sentimeter per tahun. Kondisi ini muncul akibat perubahan iklim. Oleh sebab itu, pemerintah mengambil langkah cepat untuk mengurangi dampaknya.
Selain itu, kawasan Pantura menampung sekitar 60 persen industri nasional. Di samping itu, wilayah ini juga menjadi lumbung pangan penting. Jika kondisi ini dibiarkan, kerusakan lahan akan semakin meluas.
Akhirnya, pemerintah menargetkan perlindungan bagi sekitar 50 juta penduduk. Dengan kebijakan ini, pemerintah menjaga masyarakat sekaligus melindungi aset strategis negara.
Saat ini belum ada komentar