China Berpeluang Jadi Penengah Konflik Nuklir Iran Saat Negosiasi dengan AS Buntu
- account_circle Rahman
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Presiden China Xi Jinping berbicara selama upacara setelah pembicaraan dengan mitranya dari Rusia Vladimir Putin di Kremlin di Moskow, Rusia, 8 Mei 2025
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, kabaristana.com – Negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat kembali buntu. Situasi ini membuka peluang bagi China untuk mengambil peran sebagai mediator global.
Pengusaha dan filantropis Mohamed Amersi menyebut Iran ingin China memimpin upaya mediasi. Menurutnya, Beijing bisa menjembatani komunikasi dengan Washington sekaligus menekan Iran agar lebih terbuka.
Kebuntuan terjadi meski kedua pihak telah menyepakati gencatan senjata. Konflik sebelumnya sempat mengganggu ekspor minyak Timur Tengah dan memicu gejolak ekonomi global.
Presiden Donald Trump menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium, membatasi program rudal, dan menghentikan dukungan ke kelompok proksi. Sebaliknya, Iran meminta kompensasi atas serangan militer sejak akhir Februari.
China Perkuat Posisi Diplomatik
China ikut mendorong tercapainya gencatan senjata di balik layar. Peran ini memperkuat posisi Beijing dalam persaingan global dengan AS.
Beijing juga bisa mengambil langkah konkret. Salah satunya dengan menampung uranium Iran yang telah diperkaya tinggi. Langkah ini dapat menurunkan risiko pengembangan senjata nuklir.
Selain itu, China dapat menawarkan kerja sama ekonomi. Beijing bisa mengaitkan investasi dengan komitmen de-eskalasi dari Iran.
Isu Iran Masuk Agenda Trump–Xi
Pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping pada Mei mendatang kemungkinan membahas isu ini.
Henry Huiyao Wang menilai peluang China cukup besar. Menurutnya, China bisa menjadi penengah jika kedua pihak ingin meredakan konflik.
Namun, Shou Huisheng mengingatkan risiko yang dihadapi Beijing. Ia menilai China tetap harus menjaga hubungan strategis dengan AS.
Faktor Energi Ikut Berpengaruh
China tetap mempertimbangkan kepentingan energi. Negara ini memang membeli minyak Iran, tetapi juga memiliki sumber alternatif dan cadangan yang cukup.
Selain itu, China terus mempercepat penggunaan kendaraan listrik. Langkah ini membantu mengurangi ketergantungan pada minyak.
Bahas Isu Global Lain
Selain Iran, kedua pemimpin juga akan membahas konflik Ukraina, Taiwan, serta ketegangan perdagangan dan teknologi.
- Penulis: Rahman
- Editor: Wilda

Saat ini belum ada komentar