JAKARTA, (Kabaristana.com) || Upaya Dewan Keamanan PBB untuk membuka Selat Hormuz kini menghadapi hambatan serius. Namun, Rusia, China, dan Prancis menolak klausul penggunaan kekuatan militer dalam draf resolusi.
Menurut The New York Times, sumber diplomatik menjelaskan isi draf tersebut. Draf itu memberi kewenangan kepada negara anggota untuk menjamin kebebasan pelayaran. Dengan demikian, negara anggota dapat mengambil langkah tegas saat jalur terganggu.
Meski begitu, ketiga negara menilai opsi militer berisiko memperluas konflik di Timur Tengah.
Usulan Bahrain dan Dinamika Negosiasi
Bahrain mengajukan resolusi ini dan mendapat dukungan dari negara-negara Teluk. Sejak awal, para diplomat terus menyempurnakan isi draf. Mereka sudah merevisi dokumen tersebut hingga empat kali.
Selain itu, para pihak juga menggelar negosiasi tertutup selama beberapa pekan. Akan tetapi, perbedaan sikap tetap tajam.
Pemungutan suara akan berlangsung Jumat. Sementara itu, para diplomat masih menghitung dukungan. Hingga kini, hasil akhir masih belum jelas.
Konflik Picu Gangguan Hormuz
Ketegangan kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang sejumlah target di Iran pada akhir Februari. Serangan itu menghantam beberapa lokasi penting, termasuk Teheran.
Kemudian, Iran membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS. Akibatnya, situasi kawasan semakin memanas.
Gangguan langsung terjadi di Selat Hormuz. Jalur energi global itu kini tidak sepenuhnya aman. Oleh karena itu, distribusi minyak dan gas ikut terganggu.
Dampak Global dan Ketidakpastian
Gangguan di Hormuz menekan pasokan energi dunia. Alhasil, harga minyak dan gas melonjak di pasar internasional.
Di sisi lain, perbedaan tajam di DK PBB menghambat langkah bersama. Jika kondisi ini berlanjut, stabilitas jalur energi global akan tetap terancam.
Tetap semangat
9 April 2026 6:28 am