Mencegah Repetisi Pola Krisis Tata Kelola SDA di Sulawesi Tenggara
- account_circle Adrian moita
- calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
- visibility 199
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
(KabarIstana.com), JAKARTA — Adrian Moita menyampaikan pernyataan sikap tentang pentingnya pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang berkelanjutan di Sulawesi Tenggara. Ia menyampaikan pandangan ini berdasarkan analisis data dan pengalaman pengelolaan SDA di berbagai daerah penghasil di Indonesia.
Adrian menilai kekayaan SDA tidak selalu menghasilkan kesejahteraan masyarakat. Banyak kajian kebijakan publik dan ekonomi politik menunjukkan kondisi tersebut. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai resource curse.
Fenomena itu muncul ketika eksploitasi sumber daya alam memicu masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Pengalaman Daerah Penghasil SDA
Adrian menjelaskan bahwa pengalaman sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera memberi pelajaran penting. Beberapa daerah penghasil minyak, gas, batu bara, dan mineral memiliki kontribusi besar terhadap produk domestik regional bruto (PDRB).
Namun, peningkatan kontribusi sektor ekstraktif tidak selalu menurunkan angka kemiskinan. Peningkatan tersebut juga tidak selalu memperbaiki kualitas pembangunan manusia secara signifikan.
Selain itu, sektor ekstraktif hanya menyerap tenaga kerja dalam jumlah terbatas. Kondisi ini tidak sebanding dengan kontribusinya terhadap PDRB daerah.
Tekanan Lingkungan Akibat Aktivitas Tambang
Data nasional menunjukkan aktivitas pertambangan memberi tekanan besar terhadap lingkungan. Aktivitas tersebut berdampak pada hutan, wilayah pesisir, dan kualitas sumber daya air.
Tekanan lingkungan tersebut memicu berbagai risiko. Beberapa di antaranya adalah meningkatnya bencana hidrometeorologi, konflik agraria, dan kerusakan ekosistem.
Adrian menegaskan bahwa berbagai persoalan ini saling berkaitan. Lemahnya perencanaan tata ruang sering memicu masalah tersebut. Kurangnya transparansi perizinan juga memperparah kondisi ini.
“Keterbatasan pengawasan terhadap aktivitas ekstraktif ikut memperbesar dampak yang muncul,” ujar Adrian Moita.
Pentingnya Tata Kelola SDA yang Lebih Kuat
Adrian menilai kebijakan SDA sering berfokus pada peningkatan produksi jangka pendek. Pendekatan tersebut berpotensi menimbulkan biaya sosial dan lingkungan bagi masyarakat.
Karena itu, pemerintah perlu menerapkan pendekatan kehati-hatian dalam pembangunan sektor SDA.
Dalam konteks Sulawesi Tenggara, aktivitas pertambangan dan industri mineral meningkat dalam satu dekade terakhir. Peningkatan ini perlu diimbangi dengan tata kelola yang lebih kuat.
Data perizinan dan produksi menunjukkan adanya hubungan antara ekspansi sektor ekstraktif dan tekanan terhadap ruang hidup masyarakat. Ekosistem darat dan pesisir juga ikut terdampak.
Pencegahan Risiko Sejak Tahap Awal
Adrian mendorong pemerintah memperkuat pencegahan risiko sejak tahap awal. Langkah ini dapat dilakukan melalui penguatan basis data lingkungan.
Selain itu, pemerintah perlu mengevaluasi daya dukung dan daya tampung wilayah. Integrasi kebijakan perizinan dengan rencana pembangunan jangka panjang juga menjadi hal penting.
Menurut Adrian, pendekatan berbasis data dapat mengurangi risiko kerusakan lingkungan dan konflik sosial di masa depan.
“Pernyataan sikap ini bertujuan agar Sulawesi Tenggara tidak mengalami pola masalah yang sama seperti daerah lain. Kami mendukung pembangunan, tetapi pembangunan harus berjalan secara berkelanjutan dan akuntabel,” kata Adrian.
Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, dan Masyarakat
Adrian menegaskan keberhasilan pengelolaan SDA sangat bergantung pada kerja sama semua pihak. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat harus membangun sinergi yang kuat.
Ia menilai tata kelola yang transparan dan berbasis data akan membantu menciptakan pembangunan jangka panjang yang lebih berkelanjutan.
Juru Bicara: Adrian Moita
- Penulis: Adrian moita
- Editor: Rahman
- Sumber: https://kabaristana.com

Saat ini belum ada komentar