JAKARTA, (kabaristana.com) || Sekretaris Jenderal International Maritime Organization, Arsenio Dominguez, menegaskan bahwa pendekatan militer tidak akan menyelesaikan krisis di Selat Hormuz. Ia meminta semua pihak menurunkan ketegangan dan mengutamakan solusi diplomatik.
Dominguez menyampaikan hal itu dalam pertemuan virtual yang digelar Foreign, Commonwealth and Development Office Inggris. Lebih dari 40 negara ikut dalam forum tersebut.
Fokus pada Evakuasi dan Jalur Kemanusiaan
Dominguez mengungkapkan sekitar 20.000 pelaut masih terjebak di kawasan Teluk Persia. Ia mendesak negara-negara terkait segera membuka jalur evakuasi yang aman.
Ia juga mendorong pembentukan koridor kemanusiaan. Langkah ini penting untuk mempercepat bantuan darurat dan melindungi awak kapal.
Menurutnya, negara-negara tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri. Ia meminta kerja sama global yang lebih solid, netral, dan terkoordinasi.
Serangan Meningkat, Risiko Global Membesar
Sejak konflik pecah pada akhir Februari, situasi keamanan di kawasan memburuk. Operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu eskalasi.
IMO mencatat sedikitnya 21 serangan terhadap kapal komersial. Insiden itu menewaskan 10 pelaut dan melukai beberapa lainnya.
Langkah IMO untuk Stabilkan Situasi
IMO kini mempercepat koordinasi dengan negara pesisir dan mitra industri. Organisasi ini juga menyusun kerangka jalur aman untuk evakuasi pelaut.
Selain itu, IMO meningkatkan pertukaran informasi dan pengawasan insiden maritim. Mereka juga terlibat dalam gugus tugas khusus PBB untuk menangani krisis Hormuz.
Selat Vital yang Terancam
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi distribusi energi dunia. Gangguan di wilayah ini dapat memicu dampak besar bagi ekonomi global.
Karena itu, IMO menilai kerja sama internasional menjadi kunci. Tanpa koordinasi yang kuat, risiko krisis akan semakin luas.
Saat ini belum ada komentar