Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Sekolah Rajin Meluluskan, Tapi Tak Mengajarkan Berpikir

Sekolah Rajin Meluluskan, Tapi Tak Mengajarkan Berpikir

  • account_circle Rahman
  • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
  • visibility 425
  • comment 3 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sekolah Rajin Meluluskan, Tapi Tak Mengajarkan Berpikir, Artinya:

sekolah menekankan kelulusan dan kepatuhan, sementara kemampuan berpikir kritis dan mandiri kurang dibangun.

Jakarta, kabaristana.com | Pendidikan kritis di sekolah Indonesia belum menjadi fondasi utama pembelajaran, karena sistem pendidikan masih lebih menekankan kelulusan dan kepatuhan dibandingkan kemampuan berpikir mandiri dan reflektif.

Ruang Kelas yang Menuntut Kepatuhan

Di ruang kelas, guru masih banyak menekankan hafalan, ketaatan aturan, dan target nilai. Murid belajar mengikuti instruksi, bukan menguji gagasan. Ketika siswa mengajukan pertanyaan kritis atau menyampaikan pendapat berbeda, lingkungan belajar sering meresponsnya sebagai gangguan. Pola ini membentuk kebiasaan patuh, bukan keberanian berpikir.

Kebijakan Berubah, Praktik Tetap Sama

Pemerintah berulang kali mengganti kurikulum dengan janji memperkuat kreativitas dan nalar kritis. Kementerian Pendidikan mendorong pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Namun, di tingkat sekolah, praktik belajar masih berorientasi pada nilai, peringkat, dan kelulusan. Sekolah menjalankan kebijakan secara administratif tanpa mengubah budaya belajar secara substantif.

Tekanan Sosial Membatasi Pilihan Anak

Selain sekolah, keluarga dan masyarakat ikut memperkuat budaya kepatuhan. Banyak orang tua mengarahkan anak memilih jurusan yang dianggap aman dan cepat menghasilkan pekerjaan. Mereka mengutamakan stabilitas jangka pendek, bukan pengembangan potensi dan minat anak. Akibatnya, banyak pelajar belajar menyesuaikan diri, bukan mengenali dan mengembangkan kemampuan berpikirnya.

Dampak bagi Masyarakat dan Demokrasi

Pendidikan yang mengabaikan daya kritis berisiko melahirkan generasi pasif. Warga yang terbiasa patuh akan sulit mempertanyakan ketidakadilan dan kebijakan publik yang bermasalah. Dalam jangka panjang, kondisi ini melemahkan kualitas demokrasi dan partisipasi masyarakat, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Pendidikan Seharusnya Membebaskan

Pendidikan idealnya membangun keberanian berpikir, bukan rasa takut salah. Sekolah perlu menciptakan ruang aman bagi perbedaan pendapat dan proses menalar. Dunia yang terus berubah membutuhkan individu yang mampu berpikir reflektif dan bertanggung jawab atas pilihannya, bukan sekadar lulusan yang menunggu arahan.

Persoalan pendidikan tidak berhenti pada angka kelulusan atau pergantian kurikulum. Tantangan utamanya terletak pada keberanian mengubah orientasi belajar. Selama sekolah hanya rajin meluluskan tanpa mengajarkan cara berpikir, pendidikan akan sulit menjalankan perannya sebagai fondasi kesadaran dan kemajuan masyarakat.

Komentar (3)

  • Ann

    Pendidikan seharusnya menjadi ruang pembebasan nalar, bukan sekadar pabrik kepatuhan. Ketika sekolah lebih sibuk mengejar angka kelulusan daripada membangun daya kritis, kita sedang menyiapkan generasi yang pandai mengikuti perintah tetapi gagap membaca realitas. Perubahan kurikulum tidak akan berarti apa-apa tanpa keberanian mengubah budaya belajar di ruang kelas dan di rumah. Jika pendidikan gagal melatih keberanian berpikir, maka demokrasi hanya akan diisi oleh warga yang diam dan menerima.

    Balas6 Februari 2026 2:37 pm
  • Jejeng

    Persoalan pendidikan kita bukan semata soal kurikulum, melainkan soal orientasi. Selama sekolah masih memaknai keberhasilan sebagai kepatuhan dan nilai tinggi, ruang bagi berpikir kritis akan selalu sempit. Pendidikan seharusnya membantu anak memahami dirinya dan realitas sosialnya, bukan hanya menyesuaikan diri dengan sistem yang ada.

    Salin ini baru komentar

    Balas6 Februari 2026 12:27 pm
  • RedaksiRedaksi

    Pendidikan seharusnya menjadi ruang pembebasan nalar, bukan sekadar pabrik kepatuhan. Ketika sekolah lebih sibuk mengejar angka kelulusan daripada membangun daya kritis, kita sedang menyiapkan generasi yang pandai mengikuti perintah tetapi gagap membaca realitas.

    Perubahan kurikulum tidak akan berarti apa-apa tanpa keberanian mengubah budaya belajar di ruang kelas dan di rumah..

    Jika pendidikan gagal melatih keberanian berpikir, maka demokrasi hanya akan diisi oleh warga yang diam dan menerima.

    Balas6 Februari 2026 12:15 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • prediksi Liga Inggris 2026

    Liga Inggris Buka Ruang Partisipasi Publik untuk Prediksi Sisa Musim 2025/2026

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 361
    • 0Komentar

    JAKARTA, (kabaristana.com) | Liga Primer Inggris membuka program prediksi Liga Primer Inggris 2025/2026 untuk melibatkan penggemar menjelang paruh kedua musim. Melalui program ini, liga mengajak publik menyampaikan pandangan tentang hasil akhir kompetisi. Liga menyediakan beberapa kategori prediksi. Penggemar dapat menebak juara liga, empat besar klasemen akhir, tim terdegradasi, serta pencetak gol dan assist terbanyak. Liga […]

  • Batching plant ilegal PT Razka di Konawe disorot GAM Sultra

    Diduga Beroperasi Tanpa Izin, GAM Sultra Desak Aparat Tindak PT RSK di Konawe

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 210
    • 0Komentar

    Konawe, (kabaristana.com) – Gerakan Aktivis Mahasiswa Sulawesi Tenggara (GAM Sultra) menyoroti dugaan operasional ilegal PT Razka Sarana Konstruksi (RSK). Sorotan ini terkait pengoperasian batching plant yang diduga belum memiliki izin resmi di Kabupaten Konawe. GAM Sultra menyampaikan kritik tersebut setelah Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Konawe. Dalam rapat itu, pihak PT Razka Sarana Konstruksi tidak […]

  • BKKBN Aceh Lakukan Pendampingan Psikososial di Wilayah Terdampak Banjir

    BKKBN Aceh Lakukan Pendampingan Psikososial di Wilayah Terdampak Banjir

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 222
    • 0Komentar

    JAKARTA, kabaristana,com | Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tidak hanya merusak permukiman warga. Bencana ini juga memicu tekanan psikologis pada keluarga terdampak. Perempuan, anak, dan kelompok rentan menghadapi risiko trauma, kecemasan, dan ketidakpastian pascabencana. Di banyak lokasi, warga masih berjuang memulihkan kehidupan sehari-hari. Akses layanan kesehatan dan informasi dasar ikut terganggu. Kondisi ini […]

  • Kepemimpinan perempuan Asia dan stabilitas politik

    Jejak “The Iron Lady” Asia: Dari Jepang hingga Megawati, Perempuan dan Stabilitas Kekuasaan

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 122
    • 0Komentar

    JAKARTA, kabaristana.com | Kemenangan Sanae Takaichi dalam pemilu musim dingin Jepang 2026 langsung menorehkan sejarah baru. Ia menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang, memimpin koalisi mayoritas kuat di parlemen, sekaligus memperoleh mandat luas untuk mendorong agenda fiskal dan keamanan nasional. Perbandingan dengan Margaret Thatcher muncul cepat. Julukan The Iron Lady kembali digaungkan, bahkan sebelum hasil […]

  • Presiden Prabowo meninjau pembangunan desa nelayan Miangas

    Presiden Prabowo Targetkan Desa Nelayan Miangas Rampung dalam Lima Bulan

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 43
    • 1Komentar

    Manado, (Kabaristana.com) – Presiden Prabowo Subianto memastikan pemerintah membangun satu desa nelayan di Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada 2026. Program itu masuk dalam target nasional pembentukan 1.386 desa nelayan di Indonesia. Presiden menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi Miangas, Sabtu. Ia meminta kementerian terkait segera memulai pembangunan pada Juni 2026. “Pokoknya tahun ini […]

  • Jenderal M Yusuf Hasanuddin dan Sejarah Kodam XIV Hasanuddin

    Jenderal M Yusuf Hasanuddin dan Sejarah Kodam XIV Hasanuddin

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Porondosi
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Jakarta, kabaristana.com – Jenderal M. Yusuf Hasanuddin memegang peran penting dalam sejarah pertahanan Indonesia Timur karena ia menggagas lahirnya Kodam XIV Hasanuddin sebagai pilar strategis keamanan di Sulawesi Selatan dan kawasan sekitarnya. Sejak awal pengabdiannya, ia menunjukkan kepemimpinan yang sederhana, tegas, dan berpihak pada kepentingan bangsa. Selain itu, ia memahami bahwa kekuatan pertahanan tidak hanya […]

expand_less