JAKARTA, (Kabaristana.com) — Ketahanan siber kini menjadi kebutuhan utama bagi perusahaan yang menjalankan transformasi digital. Praktisi keamanan siber sekaligus Deputy Head of Master IT Program di Swiss German University, Dr. Ir. Charles Halim, meminta pelaku usaha memperkuat sistem keamanan sejak dini agar mampu menghadapi ancaman digital yang terus meningkat. Menurut Charles, perusahaan tidak boleh menunggu serangan terjadi sebelum membangun perlindungan sistem. Ia menilai bisnis harus menyiapkan sistem keamanan secara proaktif agar operasional perusahaan tetap aman dan stabil.
Lima Pilar Perlindungan Digital
Charles menjelaskan terdapat lima pilar utama dalam membangun keamanan digital. Pilar tersebut meliputi identify, protect, detect, response, dan recover. Pada tahap identify, perusahaan perlu memetakan aset penting. Aset itu mencakup data, sistem digital, tenaga kerja, hingga pihak ketiga yang terlibat dalam layanan teknologi. Langkah ini membantu perusahaan menentukan prioritas perlindungan. Selain itu, perusahaan dapat menempatkan investasi keamanan secara tepat.
Perlindungan Sistem dan Deteksi Ancaman
Tahap protect menekankan pentingnya perlindungan sistem digital. Perusahaan perlu mengatur akses pengguna, meningkatkan pelatihan karyawan, dan memperkuat infrastruktur teknologi. Menurut Charles, langkah tersebut mampu mengurangi risiko serangan siber pada sistem bisnis.
Tahap berikutnya ialah detect atau deteksi dini. Pada tahap ini, perusahaan harus rutin memantau sistem digital. Pemantauan itu membantu perusahaan menemukan anomali dan potensi ancaman lebih cepat. Dengan cara tersebut, perusahaan dapat mempercepat penanganan ketika insiden muncul.
Respons Cepat dan Pemulihan Sistem
Charles juga menyoroti pentingnya tahap response. Perusahaan wajib memiliki prosedur penanganan insiden yang jelas dan terstruktur. Prosedur itu mencakup koordinasi internal, komunikasi krisis, dan langkah penanganan serangan siber.
Selain respons cepat, perusahaan perlu menyiapkan proses pemulihan sistem. Tahap recover bertujuan mengembalikan layanan bisnis setelah serangan muncul. Perusahaan juga perlu mengevaluasi kelemahan sistem setelah insiden terjadi. Evaluasi itu membantu perusahaan memperkuat perlindungan pada masa mendatang.
Tata Kelola Jadi Fondasi Keamanan
Charles menambahkan tata kelola menjadi unsur penting dalam sistem keamanan digital. Tata kelola membantu perusahaan menjalankan seluruh proses secara terstruktur. Ia menilai perusahaan tidak boleh menghadapi ancaman siber dengan langkah coba-coba. Karena itu, manajemen keamanan harus menyusun sistem secara matang.
Laporan terbaru dari Indosat Ooredoo Hutchison juga menunjukkan tantangan keamanan digital di Indonesia masih cukup besar.Laporan bertajuk “Kerangka Strategis Ketahanan Siber Berbasis Bisnis” itu menyebut sekitar 89 persen perusahaan di Indonesia belum memiliki sistem keamanan digital yang memadai.
Padahal, transformasi digital terus berkembang di berbagai sektor usaha. Bahkan lebih dari separuh perusahaan yang menjalankan digitalisasi masih kesulitan mengelola keamanan digital mereka.
Saat ini belum ada komentar