Menlu Tegaskan RI Tak Wajib Setor Dana di Board of Peace, Kontribusi Fokus Kemanusiaan Gaza
- account_circle Rahman
- calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
- visibility 83
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menlu RI Sugiono menegaskan peran Indonesia di Peace Board dengan fokus pada stabilitas sipil dan misi kemanusiaan Gaza tanpa kewajiban kontribusi dana_KIC/Rahman.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Kabaristana.com — Menlu RI Peace Board menjadi perhatian publik setelah Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa Indonesia tidak memiliki kewajiban menyetor dana untuk keanggotaan Dewan Perdamaian internasional tersebut.
Dalam keterangannya, Sugiono menjelaskan bahwa tawaran kontribusi dana yang disampaikan kepada anggota Menlu RI Peace Board bersifat sukarela dan tidak menjadi syarat utama keanggotaan.
Lebih lanjut, Menlu RI Peace Board menegaskan Indonesia memilih berkontribusi melalui misi kemanusiaan dan stabilisasi sipil di Gaza, bukan melalui pendanaan atau operasi militer ofensif.
“Sejak awal kami sampaikan, ini bukan iuran keanggotaan. Indonesia sudah menjadi anggota, sehingga tidak ada kewajiban untuk membayar,” ujar Sugiono dalam keterangan resmi, Sabtu (21/2/2026).
Selain itu, Sugiono juga meluruskan informasi terkait dana rekonstruksi Gaza. Ia memastikan Indonesia belum memberikan sumbangan dana, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyampaikan nilai kontribusi dalam pertemuan perdana Board of Peace.
Menurut Sugiono, dana yang dibahas dalam forum tersebut merupakan kontribusi tambahan di luar skema US$1 miliar. Karena itu, negara anggota bebas menentukan bentuk partisipasinya. Sejauh ini, sembilan negara telah menyatakan komitmen dengan total kontribusi mencapai US$7 miliar.
“Negara-negara tersebut memilih berkontribusi melalui pendanaan. Sementara itu, Indonesia mengambil pendekatan berbeda,” jelasnya.
Lebih lanjut, Indonesia memutuskan berkontribusi melalui pengiriman personel sebagai bagian dari International Stabilization Force (ISF). Melalui langkah ini, Indonesia ingin menjaga stabilitas sipil sekaligus memperkuat bantuan kemanusiaan di Gaza.
Sugiono menegaskan, Indonesia tidak akan menjalankan misi tempur. Pasukan yang dikirim tidak terlibat dalam pelucutan senjata maupun operasi militer ofensif.
“Indonesia fokus pada stabilisasi sipil dan dukungan kemanusiaan. Oleh karena itu, kami tidak menjalankan aksi militer,” tegasnya.
Pada akhirnya, kebijakan ini mencerminkan konsistensi politik luar negeri Indonesia yang menempatkan perdamaian dan perlindungan warga sipil sebagai prioritas utama di wilayah konflik.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
- Sumber: kabaristana.com

Saat ini belum ada komentar