Geger! Dugaan Pelecehan Seksual di IAI Rawa Aopa, Lidik Sultra: Ketua Yayasan Ternyata Anak Terduga Pelaku
- account_circle Jurnalis 1
- calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
- visibility 221
- comment 1 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (kabaristana.com) – Dugaan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi di Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa, Kabupaten Konawe Selatan, terus berkembang.
Publik menyoroti kasus ini setelah muncul fakta baru terkait pimpinan yayasan. Ketua yayasan diketahui memiliki hubungan keluarga langsung dengan terduga pelaku. Ia merupakan anak dari pemilik yayasan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran soal konflik kepentingan. Sejumlah pihak meragukan objektivitas lembaga dalam menangani kasus ini.
Sebelumnya, pihak yayasan dan tim hukum membantah tuduhan tersebut. Mereka menyebut informasi yang beredar tidak benar. Mereka juga mengklaim masalah telah selesai secara kekeluargaan. Selain itu, mereka menilai ada upaya penggiringan opini publik.
Namun, aktivis menilai bantahan itu belum menjawab inti persoalan. Mereka meminta klarifikasi yang lebih terbuka dan berbasis fakta.
Robby Anggara dari Lidik Sultra menyoroti hubungan keluarga dalam struktur yayasan. Ia menilai hal itu dapat memengaruhi independensi lembaga.
“Hubungan keluarga dengan terduga pelaku berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Publik berhak mempertanyakan objektivitas yayasan,” ujar Robby.
Ia menegaskan bahwa penanganan kasus harus berfokus pada korban. Ia juga meminta proses hukum berjalan transparan dan bebas intervensi.
Saat ini, korban berada di Jakarta bersama tim kuasa hukum dan pendamping dari Lidik Sultra. Ia memenuhi undangan klarifikasi dari sejumlah media nasional.
Korban juga menyiapkan langkah lanjutan. Ia berencana melapor ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.
Langkah ini bertujuan untuk memperkuat pengawasan di tingkat nasional. Selain itu, korban ingin memastikan proses berjalan objektif.
Robby menyatakan pihaknya akan terus mengawal kasus ini. Ia menekankan pentingnya perlindungan bagi korban.
“Kami akan terus mendampingi korban. Proses hukum harus berjalan adil dan tanpa tekanan,” tegasnya.
Kasus ini menarik perhatian publik karena terjadi di lingkungan pendidikan. Peristiwa ini juga menguji komitmen lembaga dalam menjaga integritas dan keadilan.
- Penulis: Jurnalis 1
- Editor: Nur Wayda



https://shorturl.fm/0bss5
19 April 2026 11:18 pm