4 Gunung Api Erupsi Bersamaan, Badan Geologi dan Ahli Ungkap Penjelasannya
- account_circle Rahman
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 85
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Gunung Ile Lewotolok meletus, Senin (7/9/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (kabaristana.com) — Aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pada Minggu (6/9/2026), Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Ibu di Maluku Utara tercatat mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan.
Kondisi tersebut memunculkan perhatian publik karena beberapa gunung api menunjukkan aktivitas erupsi pada hari yang sama. Namun, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa kejadian seperti itu dapat berlangsung secara alami.
Melalui akun Instagram resminya, @badan.geologi, Badan Geologi menjelaskan bahwa Indonesia memiliki banyak gunung api aktif karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire.
“Beberapa gunung api dapat erupsi pada hari yang sama secara alami,” tulis Badan Geologi dalam unggahannya, Senin (7/9/2026).
Badan Geologi juga menegaskan bahwa erupsi yang terjadi bersamaan tidak serta-merta menunjukkan adanya satu fenomena besar yang menghubungkan seluruh gunung api tersebut.
“Ini tidak otomatis berarti ada satu fenomena besar yang menghubungkan semuanya,” lanjut Badan Geologi.
Dinamika Tektonik di Kawasan Cincin Api
Ahli gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan perlu dilihat dalam konteks dinamika geologi Indonesia dan kawasan Ring of Fire.
Menurut Daryono, erupsi empat gunung api pada 6 September 2026 merupakan bagian dari dinamika tektonik global yang berlangsung di kawasan Cincin Api Pasifik.
“Fenomena erupsi simultan pada empat gunung api di Indonesia pada 6 September 2026, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu merupakan manifestasi dinamika tektonik global di wilayah Ring of Fire,” ujar Daryono dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Minggu (6/9/2026).
Daryono menjelaskan bahwa Indonesia berada di kawasan konvergensi tektonik yang kompleks. Sejumlah lempeng bumi bertemu dan mengalami proses subduksi di wilayah Indonesia, termasuk Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina terhadap sistem lempeng di kawasan Eurasia.
Meski beberapa gunung api mengalami peningkatan aktivitas dalam waktu yang berdekatan, kondisi tersebut tidak berarti erupsi satu gunung memicu erupsi gunung lainnya.
Secara geologi, tidak terdapat satu saluran magma bawah tanah atau “jalur pipa” tunggal yang menghubungkan dapur magma keempat gunung api tersebut.
Setiap gunung api memiliki sistem vulkanik yang berbeda. Erupsi dapat terjadi ketika tekanan magma dan fluida di dalam sistem vulkanik masing-masing meningkat hingga mencapai kondisi yang memungkinkan terjadinya pelepasan material vulkanik.
Daryono juga menjelaskan bahwa perbedaan ketinggian kolom abu dari setiap erupsi menunjukkan adanya perbedaan karakteristik dan dinamika pada masing-masing gunung api.
“Perbedaan ketinggian kolom abu dari masing-masing erupsi mencerminkan variasi dinamika erupsi, tingkat viskositas magma, serta kandungan gas vulkanik,” jelas Daryono.
Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa kemunculan erupsi pada beberapa gunung api dalam waktu yang berdekatan tidak otomatis menunjukkan adanya satu sumber pemicu yang sama. Pemantauan aktivitas gunung api tetap perlu mengacu pada informasi resmi Badan Geologi dan instansi kebencanaan terkait.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
- Sumber: Tim Redaksi



Saat ini belum ada komentar