NTB Perkuat Tambora Menuju UNESCO Global Geopark Dunia
- account_circle Rahman
- calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
- visibility 195
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto : Bupati Lombok Timur Provinsi NTB Haerul Warisin saat acara silaturahmi forum Kepala Lingkungan di Lombok Timur, Rabu (13/5/2026)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (kabaristana.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat langkah menjadikan Gunung Tambora sebagai UNESCO Global Geopark (UGG). Pemprov NTB menempatkan konservasi lingkungan sebagai fondasi utama pembangunan kawasan.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan pemerintah fokus melindungi Teluk Saleh. Kawasan itu menjadi penyangga utama ekosistem dan biodiversitas Geopark Tambora.
“Kami sudah memiliki pengalaman mengelola geopark sebagai pusat konservasi lingkungan, pelestarian geologi, dan pemberdayaan masyarakat,” kata Iqbal di Mataram, Kamis.
Iqbal menjelaskan, Pemprov NTB telah mempresentasikan pengajuan Geopark Tambora di hadapan panelis UNESCO secara daring pada Rabu (13/5).
Dalam presentasi itu, Miq Iqbal didampingi Sekretaris Bappeda NTB Baiq Yunita Puji Widiani, General Manager Badan Pengelola Geopark Tambora Makdis Sari, serta General Manager Rinjani UNESCO Global Geopark Qwadru P. Wicaksono.
Pengalaman Rinjani Jadi Modal
Iqbal menegaskan NTB tidak memulai pengelolaan geopark dari nol. Pengalaman mengelola Rinjani UNESCO Global Geopark menjadi modal penting untuk memperkuat tata kelola Tambora.
Menurutnya, Tambora merupakan “forgotten gem” atau permata yang terlupakan. Padahal, kawasan itu memiliki kekayaan geologi, sejarah, budaya, dan biodiversitas yang besar.
Rinjani dikenal sebagai destinasi wisata pegunungan dunia. Sementara itu, Tambora menyimpan jejak salah satu letusan vulkanik terbesar dalam sejarah modern manusia.
Letusan Gunung Tambora pada 1815 mengubah bentang alam Pulau Sumbawa. Peristiwa itu juga memengaruhi iklim dunia dan memicu fenomena “The Year Without Summer” di Eropa.
“Tambora bukan hanya tentang gunung api. Ia adalah bagian penting dari sejarah dunia,” tegas Miq Iqbal.
Konservasi Jadi Prioritas
Iqbal menjelaskan kawasan Geopark Tambora mencakup tiga wilayah budaya besar, yakni Bima, Dompu, dan Sumbawa. Ketiga wilayah itu mendukung penguatan konservasi berbasis masyarakat dan pelestarian budaya lokal.
Selain itu, kawasan Tambora berada di wilayah timur Garis Wallace atau Wallace Line. Kawasan tersebut memiliki biodiversitas tinggi dengan banyak flora dan fauna endemik.
Iqbal menyebut tim telah mengidentifikasi sedikitnya 275 spesies di kawasan itu. Namun, kerusakan hutan dan aktivitas ilegal masih mengancam sebagian spesies tersebut.
“Karena itu, konservasi menjadi hal yang sangat penting dalam pembangunan kawasan ini,” ujarnya.
Pemprov NTB juga memperkuat kebijakan konservasi Teluk Saleh. Kawasan itu menjadi habitat hiu paus atau whale shark dan ekosistem laut penting di Pulau Sumbawa.
Menurut Iqbal, perlindungan Teluk Saleh penting untuk menjaga keseimbangan pembangunan dan kelestarian lingkungan.
“Konservasi bukan pelengkap pembangunan, tetapi fondasi utama pembangunan kawasan,” katanya.
Tambora Punya Nilai Geologi Dunia
General Manager Badan Pengelola Geopark Tambora, Makdis Sari, menegaskan Tambora memiliki nilai universal sebagai warisan geologi dunia.
“Tambora bukan sekadar gunung berapi. Ia adalah arsip hidup dari peristiwa geologis yang mengubah sejarah manusia,” ujarnya.
Makdis mengatakan jejak letusan Tambora tahun 1815 masih terlihat hingga sekarang. Bukti ilmiah, geologi, dan budaya memperkuat nilai penting kawasan tersebut bagi ilmu pengetahuan dunia.
Pengajuan Tambora sebagai UNESCO Global Geopark menjadi langkah strategis Pemprov NTB. Pemerintah daerah ingin memperkuat posisi NTB sebagai pusat konservasi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia timur.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda



Saat ini belum ada komentar