Legislator: Kepastian produksi jadi faktor krusial di industri minerba
- account_circle Rahman
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Ilustrasi - Armada truk pengangkut batu bara sedang beroperasi di salah satu kawasan pertambangan PT Buma Internasional Group
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (kabaristana.com) — Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menilai kepastian produksi di sektor pertambangan menjadi kunci menjaga penerimaan negara. Menurutnya, sektor mineral dan batu bara terus memberi kontribusi besar melalui dividen, pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan royalti.
Eddy mengatakan bahwa pemerintah perlu menjaga iklim investasi agar pelaku usaha dapat beroperasi secara berkelanjutan. Ia menilai langkah tersebut akan memperkuat hilirisasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kepastian operasional dan keberlanjutan investasi menjadi modal penting untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” kata Eddy di Jakarta, Jumat.
Kepastian Hukum Tingkatkan Kepercayaan Investor
Eddy menegaskan kepastian hukum dan konsistensi kebijakan harus menjadi prioritas pemerintah. Kedua faktor itu mampu meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat daya saing Indonesia.
Ia juga meminta pemerintah terus mendorong investasi baru di sektor pertambangan. Menurutnya, investasi yang meningkat akan memperbesar penerimaan negara sekaligus mempercepat program hilirisasi mineral.
Kinerja Holding Industri Pertambangan MIND ID menunjukkan kontribusi besar bagi negara. Sepanjang tahun buku 2025, MIND ID menyetorkan dividen sebesar Rp12,6 triliun.
Kontribusi tersebut berasal dari enam anggota holding. Perusahaan itu meliputi PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), PT Timah Tbk, PT Vale Indonesia Tbk, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), dan PT Freeport Indonesia.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengatakan perusahaan akan terus memperkuat kontribusi kepada negara.
Pada 2026, Freeport menargetkan kontribusi sekitar 2,6 miliar dolar Amerika Serikat. Nilai tersebut berasal dari dividen sekitar 1,1 miliar dolar AS, pajak sekitar 1 miliar dolar AS, dan royalti sekitar 500 juta dolar AS.
Tony menegaskan keberlangsungan produksi memberi dampak langsung terhadap penerimaan negara. Produksi yang stabil akan meningkatkan dividen, pajak, dan royalti.
Sektor Pertambangan Perkuat APBN
Selain membayar dividen, perusahaan anggota MIND ID juga menyetor royalti dan PNBP. PT Bukit Asam menjadi salah satu penyumbang utama royalti batu bara.
ANTAM, PT Timah, dan PT Freeport Indonesia juga memberikan kontribusi besar dari komoditas nikel, timah, tembaga, dan emas.
Kontribusi tersebut memperkuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain itu, penerimaan itu mendukung program hilirisasi dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Eddy menegaskan pemerintah harus menjaga kepastian produksi dan investasi. Menurutnya, langkah itu akan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan memperbesar manfaat bagi masyarakat Indonesia.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana



Saat ini belum ada komentar