Prabowo Kutip QS Ar-Ra’d:11, Tekankan Komitmen Berantas Korupsi dan Perbaiki Tata Kelola Negara
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
- visibility 238
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, kabaristana.com | Prabowo berantas korupsi kembali menjadi penegasan Presiden Prabowo Subianto. Pada saat yang sama, publik terus menyoroti integritas pejabat negara yang dinilai masih lemah. Karena itu, Presiden mendorong pemerintah bersikap tegas terhadap praktik korupsi yang merusak kepercayaan masyarakat.
Seiring meningkatnya ekspektasi publik, isu ini menjadi penting pada awal pemerintahan baru. Selain itu, konsistensi penegakan hukum sejak awal dinilai akan menentukan arah reformasi tata kelola negara dalam jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, Presiden menghadiri pengukuhan dan ta’aruf pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2025–2030 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). Pada kesempatan itu, Prabowo mengutip Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11. Melalui ayat tersebut, Presiden menegaskan bahwa perubahan bangsa hanya terjadi jika masyarakat dan pemimpinnya bersedia memperbaiki diri.
Selanjutnya, Prabowo menyampaikan sikap pemerintah terhadap korupsi. Ia menyatakan pemerintah akan bertindak tegas terhadap koruptor. Namun, Presiden juga mengakui bahwa upaya penegakan hukum sering menghadapi perlawanan. Menurutnya, kelompok yang merasa terancam kerap memicu kegaduhan dan adu domba untuk mempertahankan kepentingan mereka.
Sementara itu, pernyataan Prabowo berantas korupsi memicu perhatian luas dari publik. Di satu sisi, masyarakat menyambut sikap tegas tersebut. Di sisi lain, sejumlah kalangan mendesak pemerintah segera membuktikannya melalui langkah konkret. Oleh karena itu, publik menunggu penanganan tegas terhadap kasus besar serta penguatan lembaga penegak hukum.
Jika pemerintah menjalankan agenda tersebut secara konsisten, dampaknya akan langsung terasa. Dengan demikian, kepercayaan publik berpeluang meningkat dan iklim investasi dapat membaik. Sebaliknya, kegagalan memenuhi komitmen justru berisiko memperdalam skeptisisme masyarakat.
Pada bagian akhir pidatonya, Prabowo menekankan pentingnya persatuan nasional. Menurutnya, kerja sama antara ulama, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci menjaga stabilitas. Dengan cara itu, bangsa dapat menegakkan keadilan dan menghadapi tantangan global secara lebih solid.



Saat ini belum ada komentar