Purbaya Ungkap Faktor di Balik Anjloknya IHSG Hingga 5 Persen
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
- visibility 325
- comment 0 komentar
- print Cetak

Layar perdagangan menunjukkan IHSG anjlok hampir 5 persen pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
jakarta, kabaristana.com | IHSG anjlok hampir 5 persen pada awal pekan dan kembali menekan pasar saham Indonesia. Koreksi tajam ini memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar modal di tengah ketidakpastian regulasi sektor keuangan.
Pada penutupan perdagangan Senin (2/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan melemah 4,88 persen atau turun 406,88 poin ke level 7.922,73. Tekanan jual bahkan sempat menyeret indeks turun lebih dari 5 persen pada sesi pertama sebelum sedikit membaik di akhir perdagangan. Data pergerakan indeks mengacu pada catatan resmi Bursa Efek Indonesia (https://www.idx.co.id).
IHSG Anjlok di Tengah Transisi Kepemimpinan OJK
Pelemahan IHSG terjadi pada momentum sensitif. Pasar bergerak tanpa sentimen positif domestik yang kuat, sementara sektor keuangan tengah menghadapi transisi kepemimpinan di Otoritas Jasa Keuangan.
Kondisi ini mendorong investor mengambil sikap hati-hati dan meningkatkan aksi jual jangka pendek, khususnya pada saham-saham yang sebelumnya telah mencatat kenaikan signifikan. Peran OJK dalam menjaga stabilitas pasar modal sebelumnya juga dibahas dalam laporan internal Pikiran Jakarta tentang pengawasan sektor keuangan.
Purbaya: IHSG Anjlok karena Pasar Masih Menunggu Ketua OJK
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai IHSG anjlok karena pelaku pasar masih menunggu kepastian penunjukan Ketua OJK yang baru.
Menurut Purbaya, pergantian kepemimpinan di lembaga pengawas keuangan memberi dampak langsung terhadap persepsi risiko investor. Ia menilai fluktuasi indeks mencerminkan respons pasar terhadap ketidakpastian tersebut, bukan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
IHSG Anjlok Tertekan Sentimen Regional Asia
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia juga datang dari kawasan regional. Sejumlah indeks utama Asia melemah seiring koreksi harga emas dan memburuknya sentimen global.
Indeks Kospi Korea Selatan turun lebih dari 5 persen, Nikkei Jepang melemah, sementara Hang Seng Hong Kong ikut tertekan. Tekanan global serupa sebelumnya juga memengaruhi pergerakan pasar saham domestik, sebagaimana pernah dilaporkan dalam analisis internal Pikiran Jakarta terkait dampak volatilitas global.
OJK: Koreksi Terjadi pada Saham yang Sudah Naik Tinggi
Pelaksana Tugas Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan tekanan pasar terutama terjadi pada saham-saham yang telah naik tinggi secara harga.
Ia menegaskan investor masih memburu saham berfundamental kuat. OJK bersama Bursa Efek Indonesia memastikan pengawasan pasar berjalan untuk menjaga perdagangan tetap wajar dan teratur. Informasi kebijakan dan pernyataan resmi OJK dapat diakses melalui laman resminya di https://www.ojk.go.id.
Dampak IHSG Anjlok bagi Investor dan Pasar
Pelaku pasar menilai kondisi IHSG anjlok berpotensi memengaruhi psikologis investor ritel jika berlangsung berkepanjangan. Ketidakpastian regulasi dapat menahan arus modal masuk dan memperlambat aktivitas penghimpunan dana emiten di pasar modal.
Bagi masyarakat, volatilitas pasar saham juga dapat berdampak pada kinerja reksa dana dan dana pensiun, serta memengaruhi persepsi terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Pasar Menanti Kepastian Regulasi
Koreksi tajam IHSG menegaskan sensitivitas pasar terhadap kepastian tata kelola dan kepemimpinan regulator. Dalam waktu dekat, pelaku pasar masih menunggu kejelasan penunjukan Ketua OJK sebagai sinyal stabilitas.
Sambil menanti kepastian tersebut, investor diimbau mencermati fundamental perusahaan dan mengikuti perkembangan kebijakan keuangan secara menyeluruh.



Saat ini belum ada komentar