BI Ungkap Penyebab Rupiah Tertekan Meski Fundamental Ekonomi Kuat
- account_circle Rahman
- calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
- visibility 270
- comment 1 komentar
- print Cetak

Logo Bank Indonesia terlihat di kantor pusat BI di Jakarta. Bank sentral menilai nilai tukar rupiah saat ini belum mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi nasional.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA,Kabaristana.com — rupiah undervalued menurut BI karena pergerakan nilai tukar saat ini belum mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi nasional. Bank Indonesia menilai berbagai indikator makro justru menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia yang relatif solid.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan inflasi yang terkendali, imbal hasil aset keuangan yang menarik, serta pertumbuhan ekonomi yang stabil menjadi fondasi utama penguatan rupiah. Dengan kondisi tersebut, rupiah undervalued menurut BI tidak sejalan dengan kinerja ekonomi domestik.
Pada perdagangan 18 Februari 2026, rupiah berada di level Rp16.880 per dolar AS, melemah sekitar 0,56 persen dibandingkan posisi akhir Januari 2026. Bank Indonesia menilai pelemahan ini bersifat jangka pendek dan tidak mencerminkan tekanan struktural.
Perry menegaskan ketidakpastian pasar keuangan global menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah. Kebijakan moneter ketat di negara maju dan meningkatnya ketegangan geopolitik global mendorong investor global bersikap lebih berhati-hati. Situasi tersebut meningkatkan premi risiko dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor global, peningkatan aktivitas ekonomi nasional juga mendorong permintaan valuta asing dari sektor korporasi. Kebutuhan impor bahan baku, pembayaran utang luar negeri, serta aktivitas perdagangan internasional menambah tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar.
Langkah BI Menjaga Stabilitas Nilai Tukar
Untuk merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia meningkatkan langkah stabilisasi di pasar keuangan. BI melakukan intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi guna menjaga pergerakan rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.
Bank sentral juga mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menarik aliran investasi portofolio asing. Dalam dua bulan terakhir, arus modal asing tercatat kembali masuk dan membantu menopang stabilitas nilai tukar serta likuiditas domestik.
Ke depan, Bank Indonesia optimistis tekanan terhadap rupiah akan mereda seiring membaiknya sentimen global. Dengan fundamental yang kuat, rupiah undervalued menurut BI memiliki ruang untuk bergerak menguat secara bertahap.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
- Sumber: https://kabaristana.com



Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.
6 Mei 2026 2:11 pm