JAKARTA, (Kabaristana.com) || Pemanfaatan panel surya pada dinding bangunan kini semakin menarik perhatian. Selain itu, teknologi ini membuka peluang baru untuk pasokan energi di kota.
Peneliti dari China meneliti penggunaan panel surya pada fasad bangunan. Mereka menyebut konsep ini sebagai facade-integrated photovoltaics (FIPV). Selama ini, banyak pihak belum memanfaatkan permukaan vertikal secara optimal.
Hasil penelitian yang dimuat di jurnal Nature Climate Change menunjukkan potensi besar dari teknologi ini.
Produksi Listrik yang Besar
Tim peneliti mengumpulkan data global terkait bangunan dan iklim. Kemudian, mereka menyusun model untuk menghitung potensi energi.
Hasilnya, panel surya pada dinding bangunan menghasilkan sekitar 732,5 terawatt-jam listrik per tahun. Dengan demikian, energi tersebut dapat memenuhi kebutuhan jutaan rumah.
Selain menghasilkan listrik, panel surya juga membantu mengurangi panas yang masuk ke dalam bangunan. Akibatnya, kebutuhan pendingin ruangan menjadi lebih rendah.
Penelitian menunjukkan konsumsi listrik bangunan turun sekitar 8,1 persen. Oleh karena itu, penghematan ini memberi keuntungan ekonomi sekaligus mengurangi penggunaan energi.
Dampak terhadap Emisi Karbon
Di sisi lain, teknologi ini juga menekan emisi karbon. Jika penerapan dilakukan secara luas, dampaknya akan semakin besar.
Peneliti memperkirakan teknologi ini dapat mengurangi emisi hingga 37,7 gigaton sampai pertengahan abad ini. Dengan kata lain, teknologi ini berperan penting dalam menghadapi perubahan iklim.
Namun demikian, penerapan teknologi ini memerlukan perencanaan yang matang. Setiap wilayah memiliki kondisi yang berbeda, sehingga perlu pendekatan khusus.
Selain itu, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menyusun kebijakan yang tepat. Langkah ini dapat mempercepat adopsi teknologi sekaligus memaksimalkan manfaatnya.
Saat ini, kota-kota menghadapi tantangan energi yang terus meningkat. Di sisi lain, tekanan lingkungan juga semakin kuat.
Oleh sebab itu, pemanfaatan dinding bangunan sebagai sumber energi menjadi solusi yang realistis. Infrastruktur yang sudah ada dapat dimaksimalkan tanpa perlu membuka lahan baru.
Saat ini belum ada komentar