JAKARTA, (Kabaristana.com) || Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta mencatat hampir 35 persen pendatang baru ke Jakarta datang untuk mencari pekerjaan, terutama setelah libur Lebaran.
Kepala Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, menegaskan bahwa usia produktif mendominasi para pendatang. Kondisi ini mendorong tingginya tujuan mencari kerja.
Usia Produktif dan Pendidikan Rendah Mendominasi
Sebanyak 77,84 persen pendatang berada pada rentang usia 15–64 tahun. Dari sisi gender, jumlah laki-laki dan perempuan hampir seimbang.
Mayoritas pendatang memiliki tingkat pendidikan SMA atau lebih rendah, dengan persentase mencapai 78,71 persen. Selain itu, sekitar 58,96 persen berasal dari kelompok berpenghasilan rendah. Banyak dari mereka bekerja di sektor informal yang mengandalkan keterampilan praktis.
Faktor Daya Tarik Jakarta
Kemudahan akses layanan publik menjadi alasan kuat pendatang memilih Jakarta. Pemerintah menyediakan layanan transportasi, kesehatan, dan pendidikan yang relatif mudah diakses.
Faktor ini membuat Jakarta tetap menjadi magnet urbanisasi, meskipun berbagai tantangan kota besar terus muncul.
Tantangan Hunian dan Kawasan Padat
Sebagian pendatang masih menghadapi persoalan tempat tinggal. Sekitar 21,05 persen tinggal di kawasan padat, termasuk wilayah kumuh dan daerah perbatasan Jakarta.
Kondisi ini mendorong pemerintah untuk memperkuat program penataan kawasan sekaligus meningkatkan kualitas hidup pendatang.
Data Pendatang dan Tren Penurunan
Hingga 1 April 2026, Dukcapil mencatat 1.776 pendatang baru masuk ke Jakarta, terdiri dari 891 laki-laki dan 885 perempuan.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pendatang pasca-Lebaran justru menurun. Pada 2022, jumlahnya mencapai 27.478 orang, lalu turun menjadi 16.049 orang pada 2025.
Pendatang Kini Lebih Siap
Denny menyebut tren terbaru menunjukkan perubahan kualitas pendatang. Banyak dari mereka datang dengan persiapan yang lebih matang.
Mereka sudah memiliki keterampilan kerja, kepastian pekerjaan, serta rencana tempat tinggal sebelum tiba di Jakarta. Pemerintah pun mendorong pembinaan UMKM dan formalisasi sektor informal agar peluang ekonomi semakin terbuka.
Saat ini belum ada komentar