Kecelakaan KA di Bekasi Timur: Evaluasi Sistem Keselamatan Lebih Mendesak daripada Narasi Diskriminatif
- account_circle Rahman
- calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
- visibility 205
- comment 1 komentar
- print Cetak

Foto: Wa Ode Nurfatul Izati, Kabid Pemberdayaan Perempuan. sekaligus Ketua Umum Kohati HMI Cabang Jakarta Pusat–Utara
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, Kabaristana.com – Kecelakaan kereta api melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL tujuan Cikarang terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). Peristiwa ini menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat.
Insiden tersebut menewaskan 16 orang dan melukai puluhan lainnya. Sebagian besar korban merupakan perempuan.
Kronologi Kejadian
Kecelakaan bermula dari tabrakan antara kereta dan sebuah taksi di perlintasan rel. Perlintasan itu belum memiliki sistem pengamanan yang memadai.
Insiden tersebut mengganggu perjalanan KRL tujuan Cikarang. Kereta itu kemudian berhenti di stasiun.
Tak lama kemudian, KA Argo Bromo Anggrek melaju di jalur yang sama. Kereta tersebut tidak sempat berhenti dan menabrak KRL dari belakang.
Usulan Menteri Picu Kritik
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, mengusulkan pemindahan gerbong khusus perempuan ke bagian tengah rangkaian kereta.
Ia menyampaikan usulan itu dengan alasan keamanan. Namun, banyak pihak langsung mengkritik gagasan tersebut.
Keselamatan Tidak Boleh Dibedakan
Wa Ode Nurfatul Izati, Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Ketua Umum Kohati HMI Cabang Jakarta Pusat–Utara, menolak pendekatan berbasis gender.
Ia menegaskan bahwa semua penumpang memiliki hak yang sama atas keselamatan.
“Tidak boleh ada perbedaan nilai keselamatan berdasarkan gender,” ujarnya.
Ia juga menilai narasi laki-laki sebagai pelindung tidak relevan dalam sistem keselamatan modern.
Fokus pada Perbaikan Sistem
Wa Ode meminta pemerintah memperbaiki sistem keselamatan secara menyeluruh.
Ia menyoroti beberapa hal penting, seperti:
- pengamanan perlintasan sebidang
- manajemen lalu lintas kereta
- mitigasi risiko operasional
Ia juga mendorong evaluasi total terhadap sistem perkeretaapian nasional.
Menurutnya, pemerintah harus fokus pada perbaikan sistem. Kebijakan berbasis asumsi sosial justru berisiko menimbulkan ketimpangan.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda



https://shorturl.fm/HtMli
30 April 2026 2:58 pm