JAKARTA, (Kabaristana.com) – Konflik Amerika Serikat dan Iran yang memasuki bulan ketiga kini menarik perhatian China. Beijing tidak lagi melihat perang itu sebagai konflik kawasan Timur Tengah semata. China mulai mempelajari perang tersebut sebagai gambaran konflik modern masa depan, termasuk kemungkinan bentrokan dengan AS terkait Taiwan.
Serangan drone murah Iran menjadi sorotan utama. Drone itu mampu menekan sistem pertahanan udara Amerika Serikat. Di sisi lain, AS menunjukkan kekuatan senjata presisi dan teknologi tempur modernnya di medan perang.
Mantan kolonel Angkatan Udara China, Fu Qianshao, mengatakan perang Iran memberi pelajaran penting bagi Beijing. Menurut dia, China harus memperkuat sistem pertahanan dalam negeri dan mencari kelemahan sebelum menghadapi perang besar.
“Kita perlu mencurahkan upaya signifikan untuk mengidentifikasi kelemahan di sisi pertahanan kita guna memastikan kita tetap tak terkalahkan dalam perang di masa depan,” ujar Fu, Senin (11/5/2026).
China Percepat Penguatan Militer
Dalam beberapa tahun terakhir, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) terus meningkatkan kekuatan ofensifnya. Beijing mengembangkan rudal hipersonik yang sulit dicegat. China juga mempercepat produksi jet tempur siluman generasi kelima J-20.
Lembaga pemikir Inggris Royal United Services Institute (RUSI) memperkirakan China bisa memiliki sekitar 1.000 unit J-20. Pesawat itu akan mendukung operasi serangan presisi jarak jauh.
Selain itu, China sedang mengembangkan pembom siluman jarak jauh. Kemampuan pesawat itu disebut mirip dengan B-2 dan B-21 milik Amerika Serikat.
Meski begitu, sejumlah analis masih meragukan kemampuan pertahanan China. Iran membuktikan bahwa drone murah dan rudal balistik berbiaya rendah tetap efektif menghadapi pertahanan udara modern.
Amerika Serikat sendiri menyerang target Iran dengan kombinasi F-35, B-2, B-1, B-52, dan F-15. Washington memakai amunisi berpemandu untuk menghancurkan peluncur rudal, kapal perang, dan jembatan strategis.
Fu Qianshao menilai pola serangan seperti itu harus menjadi perhatian serius Beijing. China perlu memperkuat perlindungan terhadap pelabuhan, pangkalan udara, dan lokasi penting lainnya.
Taiwan Jadi Fokus Utama
Taiwan menjadi perhatian utama dalam pembelajaran militer China. Beijing mempelajari cara memakai perang presisi dan serangan drone massal dalam kemungkinan konflik di Selat Taiwan.
Peneliti Institute for National Defense and Security Research Taiwan, Chieh Chung, mengatakan roket jarak jauh dan kawanan drone akan memegang peran penting jika China menyerang Taiwan.
“Roket jarak jauh dan kawanan drone pasti akan memainkan peran kunci dalam operasi militer gabungan China melawan Taiwan,” katanya.
China saat ini menjadi produsen drone terbesar di dunia. Laporan War on the Rocks tahun 2025 menyebut industri sipil China mampu memproduksi hingga satu miliar drone bersenjata per tahun jika pemerintah mengalihkannya untuk kebutuhan perang.
Sebaliknya, Taiwan masih menghadapi kelemahan dalam sistem penangkal drone. Laporan pengawas pemerintah Taiwan menyebut sistem pertahanan drone negara itu belum efektif dan masih berisiko bagi infrastruktur penting.
Amerika Serikat Ikut Belajar
Amerika Serikat juga mengambil pelajaran penting dari perang Iran. Washington melihat drone murah mampu meningkatkan biaya perang bagi pihak penyerang.
Komandan Indo-Pacific Command AS, Laksamana Samuel Paparo, sebelumnya mengatakan drone bisa menghambat pergerakan militer lawan dengan biaya yang jauh lebih murah.
Jika konflik Taiwan terjadi, AS dan Taiwan kemungkinan akan memakai drone untuk menyerang kapal dan pesawat China yang membawa pasukan PLA melintasi Selat Taiwan.
Strategi itu dianggap lebih murah dibanding nilai aset militer yang dapat dihancurkan. Pendekatan serupa muncul dalam konflik Iran ketika AS berhati-hati mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Minim Pengalaman Tempur Jadi Tantangan
Meski memiliki teknologi canggih, China masih menghadapi masalah besar. PLA minim pengalaman tempur nyata.
China terakhir kali terlibat perang besar saat konflik melawan Vietnam pada 1979. Sebaliknya, militer AS memiliki pengalaman panjang di Irak, Afghanistan, Kosovo, hingga Panama.
Analis militer China Song Zongping mengatakan perang Iran menunjukkan gambaran perang modern yang sebenarnya. Menurut dia, kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam konflik besar.
Pengamat dari S. Rajaratnam School of International Studies Singapura, Drew Thompson, menilai pengalaman tempur tetap menjadi faktor penentu kemenangan.
“Pilot andal dengan pesawat biasa-biasa saja akan selalu mengalahkan pilot biasa-biasa saja dengan pesawat yang sangat bagus,” ujarnya.
Konflik Lokal Bisa Memicu Krisis Dunia
Analis Foundation for Defense of Democracies, Craig Singleton, mengatakan perang Iran membuktikan kemenangan militer tidak selalu menghasilkan kemenangan politik.
Menurut dia, Iran mampu memanfaatkan Selat Hormuz untuk menekan perdagangan dan rantai pasokan global. Kondisi itu menunjukkan konflik lokal bisa berubah menjadi krisis internasional dalam waktu cepat.
“Bagi Beijing, itu adalah peringatan bahwa skenario Taiwan apa pun akan segera melibatkan perdagangan global, aliran energi, dan aktor pihak ketiga,” kata Singleton.
Perang AS-Iran kini menjadi perhatian banyak negara besar. Konflik itu tidak hanya memperlihatkan kekuatan senjata modern, tetapi juga pentingnya strategi, pengalaman tempur, dan kemampuan beradaptasi di medan perang.
Saat ini belum ada komentar