Sengketa Lahan Berujung Pemortalan Jalan Hauling PT MUTU
- account_circle Ramni Riyadi
- calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
- visibility 72
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BARITO SELATAN, Kabaristana.com — Sengketa lahan memicu aksi pemortalan di jalan hauling PT MUTU, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Puluhan truk tronton pengangkut batubara terhenti akibat aksi warga.
Yupelis, Kantan, dan pihak keluarga menggelar aksi tersebut sebagai bentuk protes terhadap aktivitas PT MUTU. Mereka menuntut kejelasan pembayaran ganti rugi atas lahan yang mereka klaim milik keluarga.
Lahan tersebut berada di Desa Tongka, Kabupaten Barito Utara. Lokasi lainnya berada di Desa Malintut, Kecamatan Raren Batuah, Kabupaten Barito Timur.
Warga menyebut PT MUTU telah menggarap lahan tersebut. Namun, mereka mengaku belum menerima pembayaran ganti rugi.
Warga kemudian memilih menutup jalan hauling di Barito Selatan. Jalur itu menjadi akses armada perusahaan untuk mengangkut batubara dari wilayah tersebut.
“Kami melakukan pemortalan di areal ini karena batu bara dari tanah kami yang digarap tanpa adanya ganti rugi dari wilayah Tongka, Kabupaten Barito Utara, melewati jalan ini. Termasuk juga tanah kami yang masuk Desa Malintut, Kecamatan Raren Batuah, Kabupaten Barito Timur, yang belum dibayar,” ujar Kantan saat ditemui awak media.
Kantan menegaskan warga akan tetap bertahan di lokasi. Mereka menunggu PT MUTU menyelesaikan pembayaran ganti rugi lahan.
“Sebelum PT MUTU membayar ganti rugi tanah kami, baik yang masuk Barito Utara maupun Barito Timur, kami di sini tetap bertahan sampai kapan pun dan menghadapi risiko apa pun,” ujarnya.
Manajemen PT MUTU Datangi Lokasi
Sekitar pukul 14.00 WIB, Bambang dari bagian External PT MUTU mendatangi lokasi. Ia datang untuk menemui warga dan membahas aksi pemortalan.
Pertemuan antara warga dan perusahaan berlangsung tegang. Kedua pihak sempat terlibat perdebatan terkait tuntutan pembayaran lahan.
Setelah pertemuan, Bambang mengaku tidak mengetahui rencana aksi tersebut. Ia juga menyebut perusahaan tidak menerima pemberitahuan dari warga.
“Terkait aksi pemortalan ini kami tidak mengetahui dan tidak ada pemberitahuan kepada kami. Makanya kami datang ke sini,” kata Bambang.
Bambang kemudian meninggalkan lokasi. Ia mengatakan akan melaporkan persoalan tersebut kepada pimpinan perusahaan.
Puluhan Truk Menunggu di Lokasi
Pantauan awak media menunjukkan puluhan truk tronton berhenti di sekitar titik pemortalan. Para sopir memarkirkan kendaraan secara tertib di bahu jalan.
Para pengemudi memilih menunggu dan tidak melakukan protes. Mereka tetap menjaga situasi agar tidak memicu keributan.
Warga memasang tali rafia dan kain berwarna merah sebagai tanda penutupan jalan. Mereka juga memasang rirung serta sejumlah atribut dan tanaman yang berkaitan dengan tradisi adat Dayak.
Jajaran kepolisian turut menjaga lokasi. Petugas mengawal aksi agar penyampaian aspirasi warga tetap berlangsung aman dan tertib.
Hingga berita ini diterbitkan, warga masih bertahan di lokasi. Mereka belum membuka akses hauling karena menunggu penyelesaian tuntutan ganti rugi dari PT MUTU.
- Penulis: Ramni Riyadi
- Editor: Rama
- Sumber: https://kabaristana.com



Saat ini belum ada komentar