Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Sekolah Rajin Meluluskan, Tapi Tak Mengajarkan Berpikir

Sekolah Rajin Meluluskan, Tapi Tak Mengajarkan Berpikir

  • account_circle Rahman
  • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
  • visibility 517
  • comment 3 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sekolah Rajin Meluluskan, Tapi Tak Mengajarkan Berpikir, Artinya:

sekolah menekankan kelulusan dan kepatuhan, sementara kemampuan berpikir kritis dan mandiri kurang dibangun.

Jakarta, kabaristana.com | Pendidikan kritis di sekolah Indonesia belum menjadi fondasi utama pembelajaran, karena sistem pendidikan masih lebih menekankan kelulusan dan kepatuhan dibandingkan kemampuan berpikir mandiri dan reflektif.

Ruang Kelas yang Menuntut Kepatuhan

Di ruang kelas, guru masih banyak menekankan hafalan, ketaatan aturan, dan target nilai. Murid belajar mengikuti instruksi, bukan menguji gagasan. Ketika siswa mengajukan pertanyaan kritis atau menyampaikan pendapat berbeda, lingkungan belajar sering meresponsnya sebagai gangguan. Pola ini membentuk kebiasaan patuh, bukan keberanian berpikir.

Kebijakan Berubah, Praktik Tetap Sama

Pemerintah berulang kali mengganti kurikulum dengan janji memperkuat kreativitas dan nalar kritis. Kementerian Pendidikan mendorong pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Namun, di tingkat sekolah, praktik belajar masih berorientasi pada nilai, peringkat, dan kelulusan. Sekolah menjalankan kebijakan secara administratif tanpa mengubah budaya belajar secara substantif.

Tekanan Sosial Membatasi Pilihan Anak

Selain sekolah, keluarga dan masyarakat ikut memperkuat budaya kepatuhan. Banyak orang tua mengarahkan anak memilih jurusan yang dianggap aman dan cepat menghasilkan pekerjaan. Mereka mengutamakan stabilitas jangka pendek, bukan pengembangan potensi dan minat anak. Akibatnya, banyak pelajar belajar menyesuaikan diri, bukan mengenali dan mengembangkan kemampuan berpikirnya.

Dampak bagi Masyarakat dan Demokrasi

Pendidikan yang mengabaikan daya kritis berisiko melahirkan generasi pasif. Warga yang terbiasa patuh akan sulit mempertanyakan ketidakadilan dan kebijakan publik yang bermasalah. Dalam jangka panjang, kondisi ini melemahkan kualitas demokrasi dan partisipasi masyarakat, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Pendidikan Seharusnya Membebaskan

Pendidikan idealnya membangun keberanian berpikir, bukan rasa takut salah. Sekolah perlu menciptakan ruang aman bagi perbedaan pendapat dan proses menalar. Dunia yang terus berubah membutuhkan individu yang mampu berpikir reflektif dan bertanggung jawab atas pilihannya, bukan sekadar lulusan yang menunggu arahan.

Persoalan pendidikan tidak berhenti pada angka kelulusan atau pergantian kurikulum. Tantangan utamanya terletak pada keberanian mengubah orientasi belajar. Selama sekolah hanya rajin meluluskan tanpa mengajarkan cara berpikir, pendidikan akan sulit menjalankan perannya sebagai fondasi kesadaran dan kemajuan masyarakat.

Komentar (3)

  • Ann

    Pendidikan seharusnya menjadi ruang pembebasan nalar, bukan sekadar pabrik kepatuhan. Ketika sekolah lebih sibuk mengejar angka kelulusan daripada membangun daya kritis, kita sedang menyiapkan generasi yang pandai mengikuti perintah tetapi gagap membaca realitas. Perubahan kurikulum tidak akan berarti apa-apa tanpa keberanian mengubah budaya belajar di ruang kelas dan di rumah. Jika pendidikan gagal melatih keberanian berpikir, maka demokrasi hanya akan diisi oleh warga yang diam dan menerima.

    Balas6 Februari 2026 2:37 pm
  • Jejeng

    Persoalan pendidikan kita bukan semata soal kurikulum, melainkan soal orientasi. Selama sekolah masih memaknai keberhasilan sebagai kepatuhan dan nilai tinggi, ruang bagi berpikir kritis akan selalu sempit. Pendidikan seharusnya membantu anak memahami dirinya dan realitas sosialnya, bukan hanya menyesuaikan diri dengan sistem yang ada.

    Salin ini baru komentar

    Balas6 Februari 2026 12:27 pm
  • RedaksiRedaksi

    Pendidikan seharusnya menjadi ruang pembebasan nalar, bukan sekadar pabrik kepatuhan. Ketika sekolah lebih sibuk mengejar angka kelulusan daripada membangun daya kritis, kita sedang menyiapkan generasi yang pandai mengikuti perintah tetapi gagap membaca realitas.

    Perubahan kurikulum tidak akan berarti apa-apa tanpa keberanian mengubah budaya belajar di ruang kelas dan di rumah..

    Jika pendidikan gagal melatih keberanian berpikir, maka demokrasi hanya akan diisi oleh warga yang diam dan menerima.

    Balas6 Februari 2026 12:15 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Abu vulkanik Krakatau diduga mencapai Bandung Barat. Warga menemukan material halus di teras rumah dan kendaraan pada Minggu pagi.

    Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Diduga Capai Bandung Barat, Warga Temukan Material Halus

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Bandung barat, (kabaristana.com) — Sejumlah warga Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menemukan material menyerupai pasir halus di teras rumah dan kendaraan pada Minggu (6/9) pagi. Temuan itu muncul di tengah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang bergerak menuju sejumlah wilayah. Salah seorang warga Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat, Fauzi Beni Ridwan (37), menemukan material tersebut […]

  • keracunan MBG Demak pada siswa sekolah

    Keracunan MBG Demak, Dinkes Berikan Trauma Healing untuk Siswa dan Guru

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Demak, (Kabaristana.com) – Dinas Kesehatan Kabupaten Demak memberikan pendampingan psikologis kepada siswa korban keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kebonagung. Pendampingan itu bertujuan memulihkan rasa takut dan trauma para siswa setelah kejadian tersebut. Kepala Puskesmas Kebonagung, Arif Setiawan, mengatakan petugas kesehatan memakai metode hypnotherapy untuk membantu pemulihan siswa dan guru. Sejumlah guru […]

  • Thailand hentikan ekspor minyak untuk menjaga cadangan energi nasional

    Thailand Hentikan Sementara Ekspor Minyak untuk Amankan Cadangan Energi Nasional

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 201
    • 0Komentar

    JAKARTA, (Kabaristana.com) | Pemerintah Thailand menghentikan sementara ekspor minyak mentah dan produk minyak bumi. Langkah ini bertujuan menjaga cadangan energi nasional di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik memicu kekhawatiran terhadap jalur distribusi minyak global. Gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mendorong keputusan tersebut. […]

  • Bea Cukai dan Polri menggagalkan ekspor ilegal merkuri 3,4 ton yang disembunyikan dalam kontainer keramik di Terminal Petikemas Surabaya.

    Bea Cukai dan Polri gagalkan ekspor 3,4 ton merkuri ilegal

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Jakarta, (kabaristana.com) — Bea Cukai bersama Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menggagalkan ekspor ilegal 3,4 ton merkuri cair senilai sekitar Rp17,5 miliar yang akan dikirim ke Burkina Faso, Afrika. Tim gabungan menemukan muatan berbahaya tersebut di dalam kontainer bermuatan keramik di Terminal Petikemas Surabaya. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jawa Timur I, Rusman […]

  • Sekjen HIPMI Anggawira konferensi pers gerakan hemat energi nasional

    HIPMI Serukan Gerakan Nasional Hemat Energi untuk Redam Dampak Krisis Global

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Jakarta, (Kabaristana.com) | Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) mengajak pemerintah dan masyarakat menjalankan gerakan nasional hemat energi guna menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis energi global. Sekretaris Jenderal BPP HIPMI, Anggawira, menegaskan pentingnya pengendalian konsumsi energi. Langkah ini dapat menahan tekanan pada APBN, menjaga inflasi, dan melindungi daya beli masyarakat. Ia […]

  • ilustrasi kasus IAI Rawa Aopa di lingkungan kampus

    Bantah Tuduhan, Mantan Istri Pendiri Yayasan Bongkar Fakta Kebobrokan Tata Kelola IAI Rawa Aopa

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 208
    • 1Komentar

    Kendari, Kabaristana.com – Polemik dugaan kekerasan seksual di lingkungan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa, Sulawesi Tenggara, terus bergulir. Mantan istri pendiri yayasan kampus, Salma, membantah sejumlah tuduhan yang muncul di ruang publik. Salma menegaskan pihak yayasan mengetahui seluruh proses perekrutan mahasiswa sejak awal. Ia menolak anggapan yang menyebut dirinya menjalankan perekrutan secara sepihak. “Semua […]

expand_less