TNI Gugur di Lebanon, Ledakan Proyektil Dekat Pos UNIFIL Picu Kecaman Dunia
- account_circle Rahman
- calendar_month Senin, 30 Mar 2026
- visibility 206
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto : Kendaraan patroli pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) melintas di wilayah Lebanon selatan. Insiden ledakan di kawasan ini menyebabkan satu prajurit TNI gugur saat menjalankan misi perdamaian
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (Kabaristana.com) || Seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gugur saat menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon selatan, Senin (30/3/2026). Ledakan proyektil yang terjadi di dekat pos United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) memicu kecaman luas dari komunitas internasional.
Insiden tersebut terjadi di wilayah Adchit Al Qusayr. Saat kejadian berlangsung, personel TNI tengah menjalankan tugas penjagaan. Ledakan itu merenggut satu nyawa dan melukai satu personel lainnya. Tim medis segera membawa korban luka ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
UNIFIL Selidiki Sumber Serangan
Pihak UNIFIL langsung bergerak menyelidiki asal proyektil yang memicu ledakan. Hingga kini, tim investigasi belum menemukan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Misi perdamaian PBB menegaskan bahwa seluruh personel menjalankan tugas kemanusiaan untuk menjaga stabilitas kawasan. Karena itu, setiap serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
PBB Kecam Keras dan Desak Deeskalasi
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengecam keras insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak ada alasan yang membenarkan hilangnya nyawa dalam misi perdamaian.
Juru bicara PBB, Stéphane Dujarric, menyampaikan bahwa insiden ini menjadi bagian dari rangkaian kejadian berbahaya dalam beberapa hari terakhir.
PBB juga mendesak semua pihak untuk mematuhi hukum humaniter internasional. Organisasi tersebut mengingatkan bahwa serangan terhadap penjaga perdamaian dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Tenaga Medis Ikut Jadi Korban Konflik
Situasi di Lebanon selatan juga berdampak pada tenaga kesehatan. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melaporkan bahwa serangan militer menewaskan seorang paramedis di wilayah Bint Jbeil.
Serangan tersebut juga menghancurkan ambulans dan merusak gudang medis di lokasi kejadian. WHO mencatat puluhan tenaga kesehatan telah kehilangan nyawa sejak awal Maret.
Tedros menegaskan bahwa semua pihak harus menghentikan serangan terhadap fasilitas kesehatan. Ia menilai tindakan tersebut melanggar prinsip kemanusiaan dan tidak dapat dibenarkan.
Seruan Perlindungan dan Perdamaian
PBB menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan pemerintah Indonesia. Selain itu, organisasi tersebut mendoakan kesembuhan bagi personel yang terluka.
PBB dan WHO terus menyerukan deeskalasi konflik serta perlindungan terhadap warga sipil, tenaga medis, dan pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda



Saat ini belum ada komentar