JAKARTA, (kabaristana.com) – Nilai tukar rupiah turun pada awal pekan karena tekanan sentimen global. Kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mendorong penguatan dolar AS dan menekan rupiah.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut konflik geopolitik memicu kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan ini menarik minat investor ke dolar AS sebagai aset aman. Akibatnya, rupiah kehilangan daya tarik di pasar.
Pada Senin pagi, rupiah sempat menguat ke Rp17.211 per dolar AS. Namun, tekanan global tetap mendominasi pasar. Pelaku pasar memilih menunggu perkembangan terbaru sebelum mengambil keputusan.
Dari dalam negeri, kondisi ekonomi belum memberi dukungan kuat. Kekhawatiran terhadap defisit anggaran masih membebani pasar. Selain itu, Bank Indonesia belum menaikkan suku bunga. Kondisi ini membuat rupiah kalah bersaing dengan mata uang lain.
Bank Indonesia terus menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar. Langkah ini bertujuan meredam gejolak dan menjaga kepercayaan investor. Otoritas juga memantau pergerakan pasar secara ketat.
Dalam waktu dekat, analis memproyeksikan nilai tukar rupiah turun di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS. Arah pergerakan rupiah akan bergantung pada perkembangan global dan kebijakan ekonomi.
Pelaku pasar perlu mencermati situasi global dan domestik. Perubahan kebijakan dan kondisi geopolitik dapat memengaruhi arah rupiah secara cepat.
Saat ini belum ada komentar