Sekolah Sepanjang Hari Jadi Terobosan Pendidikan Inklusif Papua Tengah
- account_circle Rahman
- calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
- visibility 124
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa saat talkshow capaian satu tahun kepemimpinan bersama Wakil Gubernur Deinas Geley di Nabire, Jumat (20/2/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Kabaristana.com | Pemerintah Provinsi Papua Tengah menghadirkan Sekolah Sepanjang Hari (SSH) sebagai solusi konkret untuk memperluas akses pendidikan inklusif bagi anak-anak di wilayah pedalaman dan kampung.
Gubernur Meki Nawipa menegaskan bahwa SSH menjawab tantangan pendidikan yang muncul akibat keterbatasan fasilitas dasar dan kondisi geografis Papua Tengah.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam talkshow capaian satu tahun kepemimpinan di Nabire, Jumat, bersama Wakil Gubernur Deinas Geley. Jurnalis senior Andy Noya memandu diskusi tersebut.
Meki menjelaskan bahwa pemerintah provinsi menyesuaikan konsep SSH dengan kebutuhan riil masyarakat. Menurut dia, anak-anak sering datang ke sekolah dengan kondisi ekonomi dan gizi yang berbeda-beda, sehingga pemerintah daerah memilih sistem sekolah sepanjang hari dibandingkan pola asrama penuh.
Melalui SSH, sekolah langsung menyediakan makanan bergizi, sarana kebersihan, serta fasilitas mandi bagi siswa. Setelah itu, guru melaksanakan proses belajar mengajar sesuai kurikulum nasional. Pada sore hari, sekolah memberikan pendampingan tambahan untuk memperkuat kemampuan dasar, karakter, dan keterampilan masa depan.
Saat ini, pemerintah provinsi mengoperasikan sembilan SSH yang tersebar di delapan kabupaten. Pada 2025, Pemprov Papua Tengah juga menetapkan tiga distrik di Kabupaten Puncak, yaitu Ilaka, Sinak, dan Dervos, sebagai wilayah percontohan pelaksanaan program tersebut.
Akademisi Universitas Papua, Agus Sumule, menilai SSH sebagai model pendidikan inklusif yang dirancang secara sistematis. Ia menekankan bahwa program ini tidak menambah beban kerja guru reguler.
Menurut Agus, sekolah menugaskan guru pendamping khusus untuk melanjutkan pembinaan siswa setelah jam belajar formal. Guru pendamping tersebut fokus pada penguatan akademik dan pendampingan keseharian anak.
Dengan pendekatan aktif dan terintegrasi, SSH berpotensi mempercepat pemerataan pendidikan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Papua Tengah..
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: https://kabaristana.com

Saat ini belum ada komentar