Aksi Jilid 2 Corak-Sultra Kembali Desak Kapolri: Copot Kapolres dan Kasatreskrim Konawe utara
- account_circle Brian Putra
- calendar_month Senin, 25 Mei 2026
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

Corong Aspirasi Rakyat Sultra (CORAK) bersama Aliansi Pemuda Peduli Pertambangan Nusantara menggelar “Seruan Aksi Jilid 2” dengan tuntutan utama mendesak Kapolri melalui Propam Polri agar segera mencopot Kapolres dan Kasatreskrim Konawe Utara secara tidak hormat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, kabaristana.com – Gelombang protes terhadap kondisi penegakan hukum di Kabupaten Konawe Utara kembali memanas. Corong Aspirasi Rakyat Sultra (CORAK) bersama Aliansi Pemuda Peduli Pertambangan Nusantara menggelar “Seruan Aksi Jilid 2” dengan tuntutan utama mendesak Kapolri melalui Propam Polri agar segera mencopot Kapolres dan Kasatreskrim Konawe Utara secara tidak hormat.
Aksi yang dijadwalkan berlangsung di Mabes Polri pada Senin, 25 Mei 2026 tersebut merupakan bentuk akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap maraknya berbagai tindak kejahatan yang dinilai tidak mampu ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum di wilayah Konawe Utara.
Dalam tuntutannya, massa aksi menilai Kapolres dan Kasatreskrim Konawe Utara gagal menjalankan fungsi penegakan hukum karena dianggap membiarkan sejumlah persoalan besar terus terjadi tanpa penindakan tegas. Mulai dari maraknya peredaran narkotika, aktivitas pertambangan ilegal, praktik ilegal logging, hingga meningkatnya kasus pencurian yang meresahkan masyarakat.
Massa menyoroti maraknya peredaran narkotika yang sampai saat ini masi merajalela di wilayah kabupaten konawe utara dan aktivitas pertambangan ilegal yang diduga masih bebas beroperasi di sejumlah wilayah Konawe Utara. Aktivitas tersebut dinilai telah merusak lingkungan, merugikan negara, dan memicu konflik sosial di tengah masyarakat. Mereka juga menduga adanya pembiaran dari aparat penegak hukum terhadap praktik-praktik ilegal tersebut.
Selain itu, praktik ilegal logging atau pembalakan liar juga menjadi sorotan utama dalam aksi tersebut. Massa menilai perusakan hutan di Konawe Utara semakin tidak terkendali dan diduga melibatkan jaringan yang kuat sehingga sulit disentuh hukum. Kondisi itu disebut telah mengancam kelestarian lingkungan serta berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan.
Tidak hanya persoalan tambang dan pembalakan liar, masyarakat juga menilai angka kriminalitas khususnya kasus pencurian semakin meningkat dan menciptakan rasa tidak aman di tengah warga. Mereka menilai aparat kepolisian gagal memberikan jaminan keamanan serta tidak mampu mengembalikan kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.
Koordinator sekaligus penanggung jawab aksi, Fauzan Dermawan, S.H., menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk perlawanan masyarakat terhadap dugaan pembiaran berbagai tindak kejahatan yang terjadi di Konawe Utara.
“Rakyat sudah muak melihat berbagai kejahatan terus terjadi tanpa penanganan serius. Tambang ilegal, ilegal logging, narkotika, hingga pencurian semakin merajalela. Kami mendesak Kapolri segera mengevaluasi total dan mencopot Kapolres serta Kasatreskrim Konawe Utara,” tegas Fauzan.
Selain mendesak pencopotan, massa aksi juga meminta Mabes Polri turun langsung melakukan investigasi menyeluruh terhadap dugaan keterlibatan oknum aparat dalam membekingi aktivitas ilegal di wilayah tersebut.
Di akhir aksi, Fauzan yang merupakan putra daerah Konawe Utara menegaskan bahwa Koalisi ini akan terus mengawal kasus tersebut hingga tuntas.
“Kami tidak datang untuk mencari sensasi. Kami datang membawa kemarahan rakyat. Jika dugaan pembiaran kejahatan ini benar terjadi, maka siapa pun yang terlibat harus diproses sesuai hukum yang berlaku,” tutupnya.
- Penulis: Brian Putra
- Editor: Muh. Nur Alim
- Sumber: Redaksi

Saat ini belum ada komentar