Prabowo Siap Jadi Mediator, Indonesia Tawarkan Dialog Redam Krisis Timur Tengah
- account_circle Rahman
- calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
- visibility 106
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Presiden Indonesia tampak menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) bersama para delegasi negara peserta di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026) waktu setempat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (Kabaristana.com) | Presiden Prabowo Subianto menegaskan kesiapan Indonesia memfasilitasi dialog untuk meredakan eskalasi konflik di Timur Tengah. Ia menyatakan bersedia datang langsung ke Teheran jika para pihak menyetujui upaya mediasi tersebut.
Pemerintah Indonesia menilai dialog tetap menjadi jalan utama untuk mengakhiri ketegangan. Indonesia mendorong seluruh pihak menahan diri dan mengutamakan diplomasi.
Kemlu Soroti Gagalnya Perundingan AS–Iran
Melalui pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan keprihatinan atas gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Kegagalan itu memicu peningkatan aktivitas militer di kawasan.
Pemerintah menekankan pentingnya menghormati kedaulatan setiap negara. Indonesia juga mengajak semua pihak menyelesaikan perbedaan secara damai.
“Presiden Republik Indonesia siap memfasilitasi dialog. Jika disetujui kedua belah pihak, Presiden bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” ujar Kemlu.
Komitmen Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Kemlu menilai langkah tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Indonesia ingin berperan menjaga stabilitas kawasan dan perdamaian dunia.
Pemerintah menegaskan bahwa eskalasi di Timur Tengah dapat berdampak luas. Ketegangan itu berpotensi mengganggu keamanan global dan perekonomian internasional.
Imbauan untuk WNI di Wilayah Konflik
Pemerintah mengimbau warga negara Indonesia di wilayah terdampak agar tetap waspada. WNI diminta mengikuti arahan otoritas setempat dan menjaga komunikasi dengan perwakilan RI terdekat.
Langkah ini bertujuan memastikan keselamatan dan keamanan WNI di tengah situasi yang berkembang.
Serangan Israel dan AS Picu Eskalasi
Pada Sabtu (28/2), Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan ini menjadi operasi kedua pemerintahan Presiden AS Donald Trump sejak Juni 2025.
Trump menyebut operasi tersebut bertujuan melindungi warga Amerika. Ia mengklaim serangan itu menargetkan ancaman dari dugaan pengembangan senjata nuklir Iran.
Perundingan Nuklir Berakhir Tanpa Hasil
Sebelum eskalasi terjadi, Amerika Serikat dan Iran menggelar tiga putaran perundingan tidak langsung. Oman memediasi perundingan tersebut.
Putaran awal berlangsung di Muscat dan Jenewa. Pembahasan berfokus pada pembatasan pengayaan uranium sebagai imbalan pencabutan sanksi. Putaran ketiga di Jenewa pada Kamis (26/2) gagal meredakan ketegangan.
Indonesia menegaskan akan terus mendorong solusi diplomatik. Pemerintah menyatakan kesiapan berkontribusi aktif demi menjaga perdamaian internasional.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: Kabaristana.com

Saat ini belum ada komentar