JAKARTA, (Kabaristana.com) | Militer Amerika Serikat mengakui tidak mampu menembak jatuh seluruh drone Iran jika serangan besar terjadi. Peringatan ini muncul dalam pengarahan tertutup kepada anggota parlemen di Capitol Hill.
Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, memimpin pengarahan tersebut. Ia menjelaskan bahwa Iran kini memiliki ribuan drone serang sekali pakai.
Sistem pertahanan udara AS memang mampu menghancurkan sebagian besar drone. Namun, militer tidak dapat menjamin semua drone bisa dihentikan.
AS Fokus Hancurkan Lokasi Peluncuran
Militer AS kini mengubah fokus strategi. Mereka lebih menargetkan lokasi peluncuran drone dan rudal Iran.
Pendekatan ini bertujuan menghentikan serangan sejak awal. Dengan cara itu, jumlah ancaman yang masuk dapat berkurang secara signifikan.
Sumber yang mengetahui pengarahan tersebut menyebut langkah ini menjadi prioritas utama. Para pejabat militer menilai strategi ini lebih efektif daripada hanya mengandalkan sistem pencegat.
Drone Shahed Sulit Dideteksi
Iran diketahui menggunakan drone Shahed sebagai senjata utama. Drone ini berbiaya rendah dan dirancang sebagai drone sekali jalan.
Drone tersebut terbang rendah dan bergerak relatif lambat. Pola ini membuatnya lebih sulit terdeteksi oleh sistem pertahanan udara konvensional.
Strategi ini juga bertujuan memaksa AS menggunakan pencegat mahal seperti Patriot dan THAAD.
Sejumlah anggota Partai Demokrat di Kongres menyampaikan kekhawatiran. Mereka menilai penggunaan pencegat dalam jumlah besar dapat menguras persediaan militer AS.
Jenderal Caine mengakui kekhawatiran itu dalam diskusi internal. Namun, ia tetap menegaskan stok amunisi presisi masih mencukupi.
“Kami memiliki amunisi presisi yang cukup untuk menjalankan tugas, baik untuk serangan maupun pertahanan,” ujar Caine dalam konferensi pers di Pentagon.
Biaya Perang Capai Miliaran Dolar
Konflik ini juga memicu pengeluaran militer yang sangat besar. Pada awal operasi, biaya militer AS mencapai sekitar 2 miliar dolar AS per hari.
Saat ini, pengeluaran tersebut turun menjadi sekitar 1 miliar dolar AS per hari. Para pejabat memperkirakan biaya itu dapat terus menurun seiring perubahan operasi militer.
Donald Trump melalui media sosial menyatakan AS mampu mempertahankan penggunaan senjata dalam jangka panjang. Ia juga menilai stok amunisi militer masih sangat besar.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, Amerika Serikat memiliki cadangan senjata yang cukup untuk konflik berkepanjangan.
Ia menambahkan bahwa sebagian pernyataan Trump juga menyinggung kebijakan pemerintahan sebelumnya yang mengirim senjata ke Ukraina.




Saat ini belum ada komentar