Ekonom nilai fondasi ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan baik
- account_circle Rahman
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menyampaikan materi dalam acara "Komunita Economic Talk" bertajuk "Membaca Tantangan dan Peluang Ekonomi Indonesia Saat Ini" di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (kabaristana.com) – Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, meminta masyarakat tidak merespons perkembangan ekonomi saat ini dengan kekhawatiran berlebihan. Menurutnya, berbagai indikator utama menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat meski dunia menghadapi berbagai tantangan.
Dalam Komunita Economic Talk di Jakarta, Jumat, Josua menjelaskan bahwa ekonomi nasional saat ini sedang menyesuaikan diri dengan dinamika global. Ia menegaskan kondisi tersebut bukan tanda Indonesia menuju krisis.
“Yang perlu dipahami adalah bahwa kondisi saat ini merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global, bukan sinyal krisis,” ujar Josua.
Fondasi Ekonomi Indonesia Masih Kokoh
Josua menilai sejumlah indikator ekonomi masih menunjukkan kinerja positif. Masyarakat terus melakukan konsumsi, inflasi tetap berada dalam rentang yang terkendali, sektor perbankan menjaga stabilitas, dan APBN terus mendukung aktivitas ekonomi nasional.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada level yang relatif tinggi. Stabilitas harga juga membantu masyarakat menjaga daya beli di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Belanja pemerintah pada awal tahun juga turut mendorong aktivitas ekonomi domestik.
Dari sisi pasar keuangan, investor asing masih menempatkan dana mereka di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga.
Josua menilai arus modal yang terus masuk menjadi salah satu sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional. Kepercayaan tersebut muncul karena Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat.
Pelemahan Rupiah Terjadi karena Faktor Global
Josua meminta masyarakat melihat pelemahan rupiah dalam konteks global. Menurutnya, penguatan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik memberi tekanan kepada banyak mata uang dunia, termasuk rupiah.
Ia juga menolak anggapan yang menyebut Indonesia sedang menuju krisis seperti tahun 1998. Menurutnya, Indonesia kini memiliki struktur ekonomi yang jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis Asia terjadi hampir tiga dekade lalu.
Josua mengakui sebagian masyarakat masih merasakan tekanan terhadap kondisi keuangan mereka. Namun, ia menilai kondisi tersebut lebih menggambarkan perubahan pola konsumsi daripada penurunan daya beli secara menyeluruh.
Kenaikan harga beberapa komoditas membuat masyarakat lebih selektif saat membelanjakan pendapatan mereka. Meski demikian, konsumsi domestik tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pemerintah juga terus menjalankan berbagai program perlindungan sosial untuk membantu kelompok masyarakat rentan menghadapi tekanan ekonomi.
Optimisme Menjadi Modal Pertumbuhan
Josua menegaskan bahwa kepercayaan publik memegang peran penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, masyarakat, pelaku usaha, dan investor perlu mempertahankan keyakinan terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Ia mengajak masyarakat untuk tetap optimistis, produktif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan global yang terus berlangsung.
“Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat, kapasitas kebijakan yang memadai, dan peluang yang besar untuk terus tumbuh. Karena itu, optimisme yang didasarkan pada data dan pemahaman yang baik menjadi sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan,” kata Josua.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
- Sumber: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar