JAKARTA, (kabaristana.com) | Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan program bisnis. Pemerintah menjalankan program ini sebagai investasi sosial untuk meningkatkan gizi masyarakat, terutama anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Berawal dari Kepedulian Presiden Prabowo
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan ide MBG muncul dari pengalaman Presiden Prabowo Subianto pada 2012.
Saat itu Prabowo mengunjungi kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Ia melihat warga memungut sisa makanan dari buruh pabrik untuk dibawa pulang. Pemandangan itu meninggalkan kesan kuat.
Menurut Nanik, pengalaman tersebut memicu tekad Prabowo. Ia ingin memastikan masyarakat, khususnya anak-anak, memperoleh makanan layak jika suatu hari memimpin negara.
“Program MBG sejak awal bertujuan membantu masyarakat. Program ini bukan untuk mencari keuntungan,” kata Nanik, Minggu (8/3/2026).
Pemerintah Libatkan Yayasan Sosial
Pemerintah membuka peluang kemitraan untuk menjalankan dapur MBG. BGN memprioritaskan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.
Kebijakan ini memiliki tujuan jelas. Pemerintah ingin mendukung lembaga sosial yang selama ini membantu masyarakat tetapi memiliki dana terbatas.
Melalui program ini, yayasan dapat memperbaiki fasilitas pendidikan, pondok, atau kegiatan sosial mereka.
Pada tahap awal, mitra boleh menggunakan badan usaha seperti CV atau PT. Namun pengelola tetap harus berada di bawah yayasan yang memenuhi syarat.
Muncul Yayasan Baru Berorientasi Bisnis
Dalam perkembangannya, BGN menemukan praktik yang menyimpang. Beberapa pihak mendirikan yayasan baru hanya untuk mengelola dapur MBG.
Bahkan ada pihak yang mengelola lebih dari satu dapur sekaligus. Tujuan mereka lebih berorientasi pada keuntungan.
Menurut Nanik, kondisi ini muncul ketika target pelaksanaan program meningkat. Banyak pihak melihat peluang ekonomi dalam program tersebut.
Fenomena ini memicu kecemburuan dan berpotensi merusak tujuan awal program.
Dalam beberapa kasus, pengelola dapur mengabaikan fasilitas dan standar operasional. Mereka terlalu fokus pada perhitungan biaya dan keuntungan.
BGN Perketat Evaluasi Mitra Program
BGN menegaskan akan memperketat evaluasi seluruh mitra MBG. Setiap kerja sama memiliki kontrak selama satu tahun.
BGN hanya memperpanjang kontrak bagi mitra yang memenuhi standar program.
Jika mitra tidak menjalankan program sesuai tujuan sosial, BGN dapat menghentikan kerja sama.
“Kami akan terus melakukan evaluasi agar program ini kembali ke tujuan awalnya,” ujar Nanik.
BGN juga mengingatkan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar menjalankan program sesuai pedoman.
Setiap pengelola harus mengikuti petunjuk teknis dan standar operasional yang berlaku.
Pemerintah berharap Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai tujuan awal. Program ini diharapkan menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan dan masa depan generasi muda Indonesia.




Saat ini belum ada komentar