Prancis Soroti Operasi Militer Israel di Lebanon, Desak PBB Gelar Pertemuan Darurat
- account_circle Retanto
- calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
- visibility 77
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto : Asap membumbung tinggi setelah serangan dalam operasi militer Israel di Lebanon di wilayah Yahmar al-Shakif, Provinsi Nabatieh, Lebanon selatan, 11 Mei 2026.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (Kabaristana.com)– Prancis menyatakan kekhawatiran atas operasi militer Israel di Lebanon yang terus berkembang. Pemerintah Prancis bahkan meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pertemuan darurat untuk membahas situasi tersebut.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menilai operasi militer Israel berpotensi memperburuk kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa langkah militer yang berkepanjangan tidak akan menciptakan stabilitas jangka panjang.
Prancis Dorong Upaya Diplomasi
Barrot meminta semua pihak mengutamakan jalur diplomasi. Menurutnya, peningkatan aktivitas militer hanya akan memperbesar risiko konflik regional.
Ia juga mendorong Iran dan Amerika Serikat segera mencapai kesepakatan untuk menurunkan ketegangan di Timur Tengah. Prancis menilai dialog menjadi cara paling efektif untuk mencegah konflik yang lebih luas.
Selain itu, Paris terus memantau perkembangan keamanan di kawasan dan berkoordinasi dengan mitra internasional.
Selat Hormuz Jadi Perhatian
Barrot mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas di Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut memiliki peran strategis bagi distribusi energi dunia.
Menurutnya, gangguan terhadap jalur tersebut dapat memicu kenaikan biaya energi. Dampaknya juga bisa menekan perekonomian global, termasuk ekonomi Prancis.
Prancis saat ini masih mengkaji berbagai opsi untuk menjaga kebebasan navigasi di kawasan tersebut. Sejumlah pembahasan dengan negara terkait juga masih berlangsung.
Israel Luncurkan Operasi Skala Besar
Militer Israel mengumumkan operasi berskala besar di Lebanon selatan pada Minggu. Operasi itu menyasar kawasan Beaufort Ridge dan Wadi al-Salouqi.
Pihak Israel menyatakan operasi tersebut bertujuan menghancurkan infrastruktur kelompok bersenjata serta menargetkan para militan yang dianggap mengancam keamanan negara.
Perkembangan ini menarik perhatian dunia internasional. Banyak pihak menilai operasi tersebut menjadi salah satu penetrasi terdalam Israel ke wilayah Lebanon dalam beberapa dekade terakhir.
Lebanon Khawatir Situs Bersejarah Rusak
Pemerintah Lebanon menyampaikan kekhawatiran atas dampak konflik terhadap warisan budaya nasional.
Menteri Kebudayaan Lebanon Ghassan Salameh menuduh serangan Israel merusak Kastil Beaufort dan sejumlah lokasi bersejarah lainnya. Ia juga menyebut beberapa pasar tradisional, perpustakaan umum, serta situs arkeologi mengalami kerusakan.
Salameh memperingatkan bahwa Lebanon selatan dapat kehilangan bagian penting dari sejarah dan budayanya jika konflik terus berlanjut.
Komunitas internasional hingga kini terus menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomasi. Berbagai negara juga mendorong semua pihak menahan diri guna mencegah eskalasi yang lebih besar.
- Penulis: Retanto
- Editor: Wilda



Saat ini belum ada komentar