JAKARTA, (Kabaristana.com) | Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 melalui sidang isbat Kementerian Agama. Di sisi lain, Muhammadiyah lebih dulu menentukan Idulfitri pada Jumat, 20 Maret 2026 dengan metode hisab.
Perbedaan ini membuat umat Islam di Indonesia kembali merayakan Lebaran di hari yang tidak sama. Warga mengikuti keputusan organisasi masing-masing dalam menentukan awal Syawal.
Fenomena perbedaan Lebaran bukan hal baru. Dalam 25 tahun terakhir, sejak 2001 hingga 2026, NU dan Muhammadiyah tercatat enam kali merayakan Idulfitri pada tanggal berbeda, yaitu pada 2002, 2006, 2007, 2011, 2023, dan 2026.
Perbedaan ini muncul karena kedua organisasi memakai metode yang berbeda. Muhammadiyah menggunakan hisab, yaitu perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan secara pasti. Metode ini memungkinkan mereka menetapkan tanggal Lebaran jauh hari sebelumnya.
Sementara itu, NU menggunakan rukyat dengan cara mengamati hilal secara langsung. Tim rukyat melakukan pemantauan menjelang akhir Ramadan untuk memastikan kemunculan bulan sabit.
Pemerintah kemudian menggabungkan hasil hisab dan rukyat dalam sidang isbat sebelum menentukan keputusan resmi. Namun, Muhammadiyah tetap berpegang pada hasil hisab yang telah mereka tetapkan.
Meski perbedaan terus terjadi, masyarakat tetap menjaga sikap saling menghormati. Umat Islam menjadikan Idulfitri sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan dan memperkuat nilai kebersamaan.
Saat ini belum ada komentar