Venezuela: Serangan Militer AS Tewaskan 83 Orang, Termasuk 32 Warga Kuba
- account_circle Rahman
- calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
- visibility 348
- comment 0 komentar
- print Cetak

ket : dampak serangan udara AS di venezuela.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (kabaristana.com) | Pemerintah Venezuela melaporkan 83 orang tewas dan sedikitnya 112 lainnya terluka akibat operasi militer Amerika Serikat pada 3 Januari 2026. Operasi tersebut, menurut Caracas, memicu krisis politik serta meningkatkan ketegangan internasional setelah pasukan AS menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López menyampaikan data korban pada Jumat (16/1). Ia berbicara dalam upacara penghormatan bagi personel militer dan warga sipil yang gugur. Menurutnya, korban tewas mencakup 47 anggota Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB), termasuk sembilan perempuan, serta warga sipil.
Selain itu, Padrino López menyebut 32 warga Republik Kuba turut meninggal dunia. Dengan demikian, total korban mencapai 83 orang, sementara lebih dari 112 lainnya mengalami luka-luka. Saat ini, sistem kesehatan militer Venezuela menangani seluruh korban luka.
Lebih lanjut, pemerintah Venezuela menjelaskan bahwa warga Kuba tersebut berada di negaranya dalam kerangka kerja sama bilateral di bidang keamanan dan teknis. Oleh karena itu, pemerintah berjanji memberi dukungan kepada keluarga korban dan menggelar penghormatan kenegaraan.
Pada saat yang sama, pemerintah Caracas menuduh Amerika Serikat menyerang sejumlah fasilitas strategis di Caracas dan wilayah lain. Dalam operasi itu, pasukan AS menangkap Maduro dan Flores, lalu menerbangkan keduanya ke New York.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahnya akan mengadili pasangan tersebut. Washington menuduh Maduro dan Flores terlibat dalam “narkoterorisme”, yang dinilai mengancam keamanan nasional AS.
Namun demikian, dalam sidang perdana di New York, Maduro dan Flores menyatakan tidak bersalah atas seluruh dakwaan di pengadilan federal.
Sebagai respons, pemerintah Venezuela mengajukan permintaan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Caracas menilai operasi militer AS sebagai bentuk agresi dan pelanggaran kedaulatan negara.
Di dalam negeri, Mahkamah Agung Venezuela mengambil langkah cepat. Lembaga tersebut menunjuk Delcy Rodríguez sebagai kepala negara sementara. Pemerintah mengklaim keputusan ini bertujuan menjaga kesinambungan pemerintahan di tengah krisis politik yang kian memburuk.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
- Sumber: https://kabaristana.com



Saat ini belum ada komentar