Opini: Kasus Grup WhatsApp Mahasiswa UI dan Krisis Etika Digital
- account_circle Retanto
- calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : Rahman mahasiswa institut stiami
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, { kabaristana.com }-Kasus dugaan pelecehan seksual digital dalam grup WhatsApp mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia menegaskan satu hal penting: krisis etika di ruang digital bukan lagi isu pinggiran, melainkan persoalan nyata yang sudah mengakar, bahkan di lingkungan terdidik.
Peristiwa ini tidak bisa kita anggap sekadar “candaan” atau kesalahan individu. Percakapan yang mengandung objektifikasi terhadap perempuan menunjukkan kegagalan memahami batas antara humor dan pelecehan. Lebih dari itu, beberapa anggota grup ikut menertawakan dan membiarkan percakapan tersebut, yang menandakan bahwa perilaku ini sudah dianggap wajar.
Normalisasi Pelecehan Seksual Digital
Masalah utama dalam kasus ini terletak pada normalisasi. Ketika seseorang menganggap candaan seksis sebagai hal biasa, sensitivitas terhadap kekerasan berbasis gender akan terus menurun.
Lingkungan yang permisif tidak hanya membiarkan pelanggaran terjadi, tetapi juga membentuk pola pikir yang menerima perilaku tersebut. Akibatnya, banyak orang tidak lagi menyadari bahwa mereka sedang terlibat dalam praktik yang merendahkan.
Ruang Digital dan Dampak Nyata
Banyak orang masih menganggap WhatsApp sebagai ruang privat yang aman. Kenyataannya, ruang digital tidak pernah benar-benar tertutup. Siapa pun bisa menyimpan, menyebarkan, dan memperlihatkan percakapan tersebut ke publik dalam waktu singkat.
Selain itu, dampaknya tidak berhenti di layar. Pelecehan verbal di ruang digital tetap menimbulkan dampak psikologis dan sosial yang nyata bagi korban. Ujaran yang merendahkan dapat melukai, menekan, dan memperkuat budaya kekerasan.
Tanggung Jawab Kampus
Kampus memegang peran penting dalam situasi ini. Sebagai institusi pendidikan, kampus tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa.
Respons kampus terhadap kasus seperti ini akan menentukan arah nilai yang mereka tegakkan. Jika kampus bersikap tegas, mereka menunjukkan komitmen terhadap etika. Sebaliknya, jika kampus memilih meredam isu, mereka berisiko memperkuat toleransi terhadap pelanggaran.
Ilusi Intelektualitas Mahasiswa
Kasus ini juga mematahkan anggapan bahwa mahasiswa otomatis memiliki kedewasaan berpikir. Pendidikan tinggi tidak selalu berjalan seiring dengan kesadaran etika.
Mahasiswa seharusnya tidak hanya mengasah kemampuan analisis, tetapi juga membangun empati dan tanggung jawab. Tanpa itu, intelektualitas hanya menjadi simbol tanpa makna.
Refleksi: Bukan Sekadar Kasus Individu
Kasus ini bukan hanya tentang pelaku, tetapi tentang budaya yang lebih luas. Ketika seseorang memilih diam, ikut tertawa, atau membiarkan candaan seksis, ia ikut memperkuat masalah tersebut.
Ruang digital mencerminkan cara berpikir penggunanya. Jika ruang itu dipenuhi ujaran yang merendahkan, maka yang perlu kita perbaiki bukan hanya perilaku di layar, tetapi juga cara pandang yang mendasarinya.
Oleh: Rahman
- Penulis: Retanto
- Editor: Nur wayda

Saat ini belum ada komentar