Inflasi Mei 2026 Terkendali di 3,08 Persen, BI Optimistis Stabilitas Harga Tetap Terjaga
- account_circle Retanto
- calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
- visibility 88
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto:Ilustrasi inflasi Mei 2026 yang tetap terkendali di tengah penguatan kebijakan moneter, stabilisasi harga pangan, dan koordinasi pengendalian inflasi oleh Bank Indonesia bersama pemerintah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta,(kabaristana.com)– Bank Indonesia (BI) memastikan inflasi nasional pada Mei 2026 tetap berada dalam rentang sasaran pemerintah. Capaian tersebut menunjukkan efektivitas kebijakan moneter dan pengendalian inflasi yang dilakukan secara konsisten.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 mengalami inflasi 0,28 persen secara bulanan. Sementara itu, inflasi tahunan mencapai 3,08 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan koordinasi antara BI dan pemerintah berperan penting dalam menjaga stabilitas harga. Melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), kedua pihak terus menjalankan berbagai langkah pengendalian.
Selain itu, BI juga memperkuat Program Ketahanan Pangan Nasional guna menjaga pasokan dan kestabilan harga kebutuhan pokok.
BI Yakin Inflasi Tetap Sesuai Target
Ramdan menegaskan BI optimistis inflasi tetap berada dalam target 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BI menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas harga. Oleh karena itu, BI akan terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk mendukung daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Inflasi Inti Masih Stabil
Pada Mei 2026, inflasi inti mencapai 0,22 persen secara bulanan. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai 0,23 persen.
Kenaikan harga minyak goreng mendorong inflasi inti pada periode tersebut. Meski demikian, masyarakat tetap menjaga ekspektasi inflasi pada level yang stabil.
Secara tahunan, inflasi inti mencapai 2,59 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan posisi April 2026 yang berada di level 2,44 persen.
Harga Pangan Naik Seiring Berkurangnya Pasokan
Kelompok harga bergejolak atau volatile food mencatat inflasi 0,22 persen secara bulanan. Sebelumnya, kelompok ini mengalami deflasi 0,88 persen pada April 2026.
Harga cabai merah, bawang merah, tomat, dan beras menjadi penyumbang utama inflasi pangan. Di sisi lain, cuaca ekstrem mengganggu produksi sejumlah komoditas sehingga pasokan berkurang.
Selain itu, musim panen raya telah berakhir di berbagai daerah. Sementara itu, permintaan masyarakat meningkat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha.
Akibat kondisi tersebut, inflasi volatile food secara tahunan mencapai 6,24 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 3,37 persen.
Selanjutnya, BI memperkirakan inflasi pangan tetap terkendali karena pemerintah dan BI terus memperkuat program pengendalian inflasi serta ketahanan pangan.
Kenaikan Energi Dorong Tarif dan BBM
Kelompok administered prices mengalami inflasi 0,52 persen secara bulanan. Namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,69 persen.
Kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, bensin, dan tarif angkutan udara menjadi faktor utama pendorong inflasi kelompok ini. Selain itu, pelaku usaha menyesuaikan harga LPG nonsubsidi, BBM nonsubsidi, dan avtur setelah harga energi global meningkat.
Secara tahunan, inflasi administered prices mencapai 2,07 persen. Sebagai perbandingan, kelompok ini mencatat inflasi 1,53 persen pada April 2026.
Karena itu, BI akan terus menjaga stabilitas harga melalui kebijakan yang konsisten. Selain itu, BI juga akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna mengantisipasi berbagai risiko inflasi ke depan.
- Penulis: Retanto
- Editor: Wilda



Saat ini belum ada komentar