JAKARTA, (Kabaristana.com) | Pemerintah Thailand menghentikan sementara ekspor minyak mentah dan produk minyak bumi. Langkah ini bertujuan menjaga cadangan energi nasional di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik memicu kekhawatiran terhadap jalur distribusi minyak global. Gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mendorong keputusan tersebut.
Pemerintah Pantau Situasi Energi
Menteri Energi Thailand, Auttapol Rerkpiboon, membentuk Pusat Pemantauan Situasi Darurat Energi. Pusat ini memantau perkembangan pasar energi dan risiko gangguan pasokan.
Lembaga terkait melakukan analisis terhadap kondisi energi nasional. Mereka juga menyiapkan langkah darurat untuk jangka pendek dan jangka panjang.
Pemerintah Thailand mempertimbangkan penggunaan dana negara. Kebijakan ini bertujuan meredam dampak kenaikan harga energi terhadap biaya hidup masyarakat.
Cadangan Minyak Masih Cukup
Data Kementerian Energi Thailand per 1 Maret menunjukkan cadangan minyak domestik mencapai sekitar 4,877 juta liter. Jumlah ini mampu memenuhi kebutuhan energi nasional selama sekitar 38 hari.
Thailand juga memiliki stok minyak yang masih berada dalam jalur pengiriman. Total stok transit mencapai sekitar 2,783 juta liter.
Sekitar 1,666 juta liter telah melewati Selat Hormuz. Sementara 1,117 juta liter masih berada dalam proses pengiriman dari sumber lainnya.
Cadangan domestik dan stok transit tersebut mampu memenuhi kebutuhan energi Thailand hingga sekitar 60 hari. Jumlah ini masih sesuai dengan standar cadangan energi nasional.
Thailand Perkuat Produksi Energi
Kementerian Energi Thailand meminta Departemen Bahan Bakar Mineral meningkatkan produksi gas alam dari Teluk Thailand. Pemerintah juga menunda sebagian jadwal pemeliharaan fasilitas produksi agar pasokan tetap stabil.
Selain itu, operator pembangkit listrik tenaga batu bara dan tenaga air meningkatkan produksi listrik. Langkah ini membantu menjaga pasokan energi nasional.
Ketergantungan pada Minyak Timur Tengah
Data S&P Global Commodities at Sea menunjukkan Thailand masih bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Pada 2025, Thailand mengimpor sekitar 491.500 barel minyak mentah dan kondensat per hari dari kawasan tersebut.
Angka itu meningkat dibandingkan 428.200 barel per hari pada 2024.
Hingga awal Maret 2026, kawasan Timur Tengah menyumbang lebih dari 51 persen impor minyak mentah Thailand. Kondisi ini membuat stabilitas kawasan tersebut sangat penting bagi keamanan energi negara itu.
Melalui kebijakan penghentian ekspor minyak, pemerintah Thailand berupaya menjaga ketersediaan energi nasional di tengah ketidakpastian situasi global.




Saat ini belum ada komentar