Revitalisasi Stasiun Semarang Tawang Jadi Acuan Pemugaran Cagar Budaya KAI
- account_circle Rahman
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Ilustrasi - Stasiun Semarang Tawang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SEMARANG, (kabaristana.com) — PT Kereta Api Indonesia (KAI) menjadikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang sebagai acuan baru dalam pemugaran bangunan cagar budaya di Indonesia. Perusahaan menyelesaikan proyek tersebut dalam waktu 330 hari dan meresmikan kembali stasiun berusia 112 tahun itu sebagai fasilitas transportasi yang tetap aktif melayani masyarakat.
KAI kini mengelola lebih dari 600 bangunan cagar budaya. Perusahaan sedang memugar sekitar 120 bangunan secara bertahap. Setelah Semarang Tawang, KAI akan melanjutkan revitalisasi Stasiun Jakarta Kota, Tanjung Priok, dan Bogor.
Revitalisasi Mengutamakan Keaslian Bangunan
KAI memulihkan setiap bagian Stasiun Semarang Tawang sesuai aturan pelestarian cagar budaya. Tim restorasi mengacu pada Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.57/PW007/MKP/2010 agar bentuk bangunan tetap sesuai dokumentasi sejarah.
Bangunan rancangan arsitek Belanda Sloth-Blauwboer itu berdiri di atas lahan seluas 27.310 meter persegi. Luas bangunan utamanya mencapai sekitar 5.300 meter persegi. Tim restorasi mengerjakan fasad depan dan hall utama pada tahap pertama. Setelah itu, mereka melanjutkan pekerjaan di sisi barat dan timur bangunan.
Pendekatan tersebut menjaga nilai sejarah sekaligus mempertahankan karakter asli stasiun.
KAI Perkuat Sistem Drainase
KAI tidak hanya memperbaiki tampilan bangunan. Perusahaan juga membangun sistem drainase yang lebih baik. Langkah ini menjadi prioritas karena kawasan Semarang Utara sering mengalami banjir rob.
Perbaikan saluran air membantu menjaga area stasiun tetap aman ketika air laut pasang. Dengan demikian, masyarakat dapat menggunakan stasiun tanpa terganggu genangan air.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi tidak sekadar mempercantik bangunan lama. KAI juga meningkatkan kualitas infrastruktur agar lebih andal.
Stasiun Semarang Tawang tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai pusat transportasi. KAI mencatat lebih dari 2,15 juta pergerakan penumpang di stasiun tersebut selama semester pertama 2026.
Setiap hari, sekitar 34 perjalanan kereta berangkat dari Stasiun Semarang Tawang. Aktivitas tersebut menjadikan Tawang sebagai salah satu stasiun tersibuk di Indonesia.
Kondisi ini membedakan Tawang dari banyak bangunan cagar budaya lain yang kehilangan fungsi setelah dipugar. KAI justru mempertahankan aktivitas masyarakat di dalam bangunan bersejarah tersebut.
Mendukung Wisata Sejarah Kota Semarang
Lokasi Stasiun Semarang Tawang berada di kawasan bersejarah Kota Lama Semarang. Wisatawan dapat mengunjungi Lawang Sewu, Gereja Blenduk, dan Klenteng Sam Poo Kong dalam satu kawasan yang saling terhubung.
Pemerintah Kota Semarang mencatat sekitar 8,9 juta kunjungan wisatawan sepanjang 2025. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Keberadaan Stasiun Semarang Tawang memperkuat konektivitas kawasan wisata sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa layanan kereta api harus tetap menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah dan kota-kota kecil. Pemerintah menjalankan komitmen tersebut melalui skema Public Service Obligation (PSO).
Direktorat Jenderal Perkeretaapian mencatat lebih dari 155 juta pelanggan memanfaatkan layanan kereta bersubsidi selama Januari hingga April 2026.
KAI masih mengoperasikan sejumlah kereta ekonomi bersubsidi seperti Bengawan, Kahuripan, Serayu, dan Airlangga. Kereta tersebut melayani berbagai kota kecil dengan tarif yang tetap terjangkau.
Sebagai contoh, KA Bengawan melayani rute Purwosari–Pasar Senen dengan tarif sekitar Rp74 ribu. Kereta itu tetap berhenti di Klaten, Kutoarjo, dan sejumlah kota lain yang jarang dilayani kereta eksekutif.
Menjadi Model Pemugaran Nasional
Keberhasilan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang memberi arah baru bagi program pelestarian bangunan cagar budaya milik KAI. Perusahaan tidak hanya menjaga keaslian arsitektur. KAI juga memastikan setiap bangunan tetap berfungsi sebagai ruang publik yang produktif.
Konsep tersebut akan diterapkan pada revitalisasi Stasiun Jakarta Kota, Tanjung Priok, dan Bogor. KAI berharap seluruh bangunan cagar budaya yang dipugar tetap hidup melalui aktivitas masyarakat.
Melalui pendekatan itu, pelestarian sejarah tidak berhenti pada restorasi fisik. KAI menghubungkan warisan budaya dengan kebutuhan transportasi modern sehingga bangunan bersejarah tetap bermanfaat bagi generasi sekarang maupun masa depan.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: Tim Redaksi



Saat ini belum ada komentar