Kisah Nabi Nuh: Mengapa Hewan Diselamatkan dan Manusia Ditinggalkan
- account_circle Porondosi
- calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
- visibility 605
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gambar, Ilustrasi Nabi Nuh A.S ketika menyelamatkan hewan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, kabaristana.com – Kisah Nabi Nuh sering dipahami sebagai cerita tentang bahtera dan banjir besar. Padahal, kisah ini menyimpan pelajaran moral yang jauh lebih dalam. Dari sini muncul satu pertanyaan penting: mengapa Nabi Nuh menyelamatkan hewan, sementara banyak manusia justru ditinggalkan?
Selama ratusan tahun, Nabi Nuh berdakwah dengan kesabaran luar biasa. Dengan keteguhan hati, ia mengajak kaumnya kembali ke jalan kebenaran. Ia juga menasihati mereka agar meninggalkan kesombongan dan menghentikan kezaliman. Namun, kaumnya menolak seruan tersebut. Bahkan, mereka mengejek Nabi Nuh dan menganggapnya gila. Penolakan itu terus berlangsung meski peringatan datang berulang kali. (07/02/2026).
Ketika wahyu turun, Allah memerintahkan Nabi Nuh membangun bahtera. Perintah itu terdengar jelas dan tegas. Dalam wahyu tersebut, Nabi Nuh diminta menyelamatkan orang-orang beriman serta sepasang dari setiap jenis hewan. Perintah ini tidak menunjukkan bahwa hewan lebih mulia dari manusia. Sebaliknya, pesan ini menegaskan bahwa nilai kemanusiaan lahir dari iman dan ketaatan.
Hewan hidup sesuai fitrahnya. Mereka tidak merusak bumi karena keserakahan. Tanpa kesadaran moral, mereka juga tidak menolak kebenaran demi kesombongan. Berbeda dengan itu, manusia sering memilih jalan sebaliknya. Padahal, Allah telah memberi manusia akal dan hati untuk membedakan yang benar dan yang salah.
Keputusan Nabi Nuh menyelamatkan hewan mengandung makna simbolik yang kuat. Dalam kondisi manusia kehilangan nurani, Allah menjaga keberlangsungan kehidupan melalui makhluk yang hidup selaras dengan alam. Karena itu, hewan menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan bumi setelah banjir besar menghapus kezaliman.
Kisah ini tidak membandingkan manusia dengan hewan. Sebagai gantinya, kisah ini menegur manusia secara moral. Iman, kerendahan hati, dan tanggung jawab memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada kekuasaan dan jumlah pengikut. Setiap manusia memiliki pilihan. Dari pilihan itulah, Allah menentukan akibatnya.
Hingga hari ini, kisah Nabi Nuh tetap relevan. Melalui kisah ini, manusia diingatkan bahwa ketika kebenaran diabaikan dan kesombongan dipelihara, kehancuran akan datang sebagai akibat yang pasti.
- Penulis: Porondosi
- Editor: Endhy

Saat ini belum ada komentar