Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.985/US$, Makin Dekat Level Psikologis Rp17.000
- account_circle Rahman
- calendar_month Senin, 30 Mar 2026
- visibility 243
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto : Tumpukan uang pecahan dolar AS dan rupiah yang mencerminkan pergerakan kurs rupiah hari ini terhadap dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (Kabaristana.com) || Kurs rupiah hari ini melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (30/3/2026). Pelemahan ini terjadi seiring penguatan dolar AS di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, kurs rupiah hari ini turun 0,15% ke level Rp16.985 per dolar AS. Posisi ini menjadi yang terlemah dalam dua pekan terakhir. Selain itu, rupiah kini semakin dekat dengan level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Sejak awal perdagangan, pelaku pasar langsung memberi tekanan pada rupiah. Mata uang Garuda dibuka di Rp16.970 per dolar AS. Selanjutnya, tekanan terus meningkat hingga penutupan perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) naik 0,10% ke level 100,252 pada pukul 15.00 WIB. Kenaikan ini menunjukkan investor kembali memburu dolar AS. Karena itu, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.
Di sisi lain, kondisi global turut memperburuk sentimen pasar. Konflik di kawasan Teluk mendorong harga minyak dunia naik. Akibatnya, pasar mulai mengantisipasi kenaikan inflasi global. Selain itu, risiko perlambatan ekonomi juga meningkat.
Selain faktor eksternal, Bank Indonesia (BI) terus menjaga stabilitas nilai tukar. BI meluncurkan instrumen repo valuta asing dengan agunan SVBI dan SUVBI. Kebijakan ini mulai berlaku pada hari yang sama.
Menurut Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Erwin Gunawan Hutapea, kebijakan tersebut memperkuat strategi moneter berbasis pasar. Lebih lanjut, instrumen ini memberi alternatif bagi perbankan dalam mengelola likuiditas valuta asing.
Karena itu, BI berharap pasar keuangan domestik menjadi lebih dalam. Pada akhirnya, langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda



Saat ini belum ada komentar