Sejarah Ta’awu: Simbol Tradisi, Kekuasaan, dan Identitas Masyarakat Tolaki
- account_circle Rahman
- calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
- visibility 188
- comment 3 komentar
- print Cetak

Foto: logo parang Ta'awu dan di tengah tugu MTQ kendari. Dok_KI/Rama
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
(Kabaristana.com) – Ta’awu menjadi salah satu warisan budaya masyarakat Tolaki yang sarat makna historis dan simbolik. Istilah ini berasal dari dua kata dalam bahasa Tolaki, yaitu ta’ yang berarti “bertahan” dan wu yang berarti “rambut”. Makna tersebut mencerminkan ketahanan dan keberanian dalam tradisi masyarakat pada masa lampau.
Praktik Tradisional Ta’awu
Masyarakat Tolaki menjalankan praktik ta’awu dengan cara yang khas. Mereka tidak menggunakan alat bantu seperti sarung, tetapi berinteraksi langsung dalam konteks pertempuran tradisional. Mereka kemudian menjadikan rambut lawan sebagai simbol keberhasilan dan keberanian. Semakin banyak simbol yang dimiliki, semakin tinggi nilai ta’awu seseorang dalam struktur sosial saat itu.
Jejak Arkeologis Ta’awu
Peneliti menemukan artefak ta’awu di berbagai lokasi, seperti gua dan area pemakaman. Masyarakat masa lalu menempatkan ta’awu sebagai bekal kubur, yang menunjukkan nilai pentingnya dalam kehidupan spiritual. Selain itu, peneliti juga menemukan artefak tersebut di permukaan tanah saat penggalian. Temuan ini menegaskan bahwa masyarakat telah mengenal ta’awu sejak masa kuno.
Peran Ta’awu pada Masa Kerajaan
Pada masa kerajaan, ta’awu berfungsi sebagai simbol kekuasaan dan status sosial. Para pemimpin menggunakan ta’awu dalam prosesi pelantikan raja, seperti ta’awu mbodiso mokole dan ta’awu pondiso bokeo. Kalangan bangsawan (anakia) dan ksatria memiliki hak khusus untuk menyimpan dan menggunakan ta’awu.
Pergeseran Fungsi di Era Modern
Masyarakat mulai mengubah fungsi ta’awu setelah masa kolonial hingga era reformasi. Organisasi adat dan pemuda menggunakan ta’awu sebagai simbol identitas budaya. Mereka tidak lagi memaknainya sebagai senjata, tetapi sebagai lambang kebanggaan kolektif.
Keluarga juga menyimpan ta’awu sebagai pusaka yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Pada masa lalu, masyarakat bahkan memperdagangkan ta’awu bersama tombak dan perlengkapan tradisional lainnya.
Ta’awu sebagai Identitas Budaya
Hingga saat ini, masyarakat Tolaki tetap mempertahankan ta’awu sebagai bagian penting dari identitas budaya. Tradisi ini mencerminkan perjalanan sejarah, struktur sosial, serta perubahan makna dari masa ke masa.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: https://kabaristana.com



https://shorturl.fm/7iD9U
30 April 2026 8:30 amhttps://shorturl.fm/otMpz
29 April 2026 10:36 pmhttps://shorturl.fm/EAfVF
29 April 2026 4:10 pm