Tak Tega Rakyat Terpuruk, Raja Jawa Salurkan Dana Pribadi Setara Rp20 Miliar
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
- visibility 214
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Sultan Hamengkubuwana IX. (Dok. ekon.go.id)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, kabaristana.com | Sultan HB IX uang menjadi penyangga hidup ribuan warga Yogyakarta pada 1947. Saat perang dan agresi militer memiskinkan rakyat, Sultan Hamengkubuwana IX memilih menguras dana pribadinya demi mencegah krisis sosial yang lebih luas.
Situasi itu muncul ketika Belanda melancarkan Agresi Militer untuk merebut kembali Indonesia. Aktivitas ekonomi berhenti total. Pegawai negeri kehilangan gaji. Banyak keluarga jatuh miskin dan kehilangan tempat tinggal. Tekanan politik pun meningkat karena Belanda berupaya menarik dukungan rakyat dengan janji kesejahteraan.
Di tengah kondisi tersebut, Sultan Hamengkubuwana IX mengambil langkah cepat. Ia membuka kas pribadi Kesultanan dan menyalurkan bantuan tunai langsung kepada rakyat miskin, pegawai yang kehilangan penghasilan, serta keluarga pejuang. Penyaluran berlangsung hampir setiap hari selama sekitar tiga hingga empat bulan.
Sultan tidak menunggu mekanisme birokrasi. Ia menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Dalam buku Takhta untuk Rakyat (1982), Sultan mengaku tidak menghitung jumlah uang yang keluar. Ia menilai keselamatan rakyat lebih penting daripada pencatatan keuangan.
Selain kepada individu, Sultan HB IX uang juga mengalir ke lembaga perjuangan. Ia memberikan dana kepada tentara republik dan unit Palang Merah Indonesia untuk mendukung pelayanan kemanusiaan dan pertahanan wilayah.
Besaran dana kemudian terungkap melalui kesaksian Mohammad Hatta. Hatta menyebut Sultan mengeluarkan sekitar lima juta gulden, nilai yang setara lebih dari Rp20 miliar saat ini. Hatta sempat menawarkan penggantian dari negara, namun Sultan tidak menanggapi dan tetap melanjutkan bantuan.
Sejumlah sejarawan menilai langkah ini berdampak strategis. Bantuan tersebut menjaga daya hidup rakyat sekaligus mencegah pergeseran loyalitas ke pihak Belanda. Stabilitas sosial Yogyakarta tetap terjaga, sehingga daerah ini mampu bertahan sebagai pusat perjuangan nasional.
Hingga kini, kisah Sultan HB IX uang pribadi untuk rakyat kerap menjadi rujukan kepemimpinan di masa krisis. Tindakan tersebut menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat berfungsi sebagai alat perlindungan publik, bukan sekadar simbol kekuasaan.



Saat ini belum ada komentar