Isu Lingkungan di DKI Jakarta Kian Mendesak, Warga Dorong Langkah Nyata dan Berkelanjutan
- account_circle Wandi
- calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
- visibility 462
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (kabaristana.com) | Berbagai persoalan lingkungan di DKI Jakarta semakin kompleks dan mendesak untuk segera ditangani secara menyeluruh. Warga menyoroti sejumlah isu utama, mulai dari penurunan kualitas udara, persoalan banjir dan pengelolaan sampah, hingga minimnya ruang terbuka hijau di kawasan permukiman padat.
Polusi Udara Jadi Keluhan Harian Warga
Warga Jakarta kini merasakan penurunan kualitas udara hampir setiap hari, terutama di wilayah dengan kepadatan lalu lintas tinggi. Andi Pratama (38), warga Jakarta Timur, menyebut polusi udara semakin mengganggu aktivitas harian.
“Pagi dan sore hari udara terasa berat. Banyak warga, terutama anak-anak dan lansia, mengeluhkan batuk, iritasi mata, hingga sesak napas. Masalah ini tidak lagi bersifat musiman, tetapi sudah terjadi setiap hari,” ujarnya.
Andi menilai emisi kendaraan bermotor dan aktivitas industri masih menjadi sumber utama pencemaran udara. Ia berharap pemerintah daerah memperluas kebijakan transportasi ramah lingkungan serta memperketat pengawasan emisi.
“Pemerintah perlu memastikan transportasi umum benar-benar nyaman dan terjangkau agar warga mau meninggalkan kendaraan pribadi,” tambahnya.
Banjir dan Sampah Masih Mengancam Permukiman
Selain polusi udara, warga juga masih menghadapi persoalan banjir di sejumlah wilayah. Siti Aminah (45), warga Jakarta Utara, mengatakan genangan air kerap muncul saat hujan deras turun.
“Banjir bukan hanya karena hujan, tetapi karena saluran air tersumbat sampah. Setiap musim hujan, kami selalu merasa khawatir,” katanya.
Menurut Siti, pengelolaan sampah rumah tangga belum berjalan optimal. Kurangnya kesadaran sebagian warga dan keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah memperparah kondisi sungai dan drainase.
“Pemerintah perlu menjalankan edukasi dan penegakan aturan secara bersamaan. Imbauan saja tidak cukup,” ujarnya.
Minim Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Padat
Masalah lain yang tak kalah penting adalah berkurangnya ruang terbuka hijau. Rudi Hartono (29), warga Jakarta Selatan, menilai pembangunan yang masif terus menggerus area hijau di sekitar permukiman.
“Di sekitar rumah saya, hampir semua lahan kosong berubah menjadi bangunan. Padahal ruang hijau sangat penting sebagai area resapan air dan tempat warga beraktivitas,” katanya.
Rudi menambahkan bahwa taman kota dan jalur hijau tidak hanya menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga berdampak positif pada kesehatan mental masyarakat.
“Lingkungan yang hijau membuat warga merasa lebih sehat dan nyaman,” ujarnya.
Harapan Warga pada Kebijakan Lingkungan Jangka Panjang
Warga berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat kebijakan lingkungan yang berorientasi jangka panjang. Mereka mendorong peningkatan kualitas transportasi publik, pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat, perawatan dan normalisasi drainase, serta penambahan ruang terbuka hijau di kawasan padat penduduk.
Selain itu, warga menilai pelibatan aktif masyarakat sangat penting agar kebijakan berjalan efektif. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas lingkungan, dan warga di tingkat RT/RW diharapkan mampu menciptakan Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
- Penulis: Wandi
- Editor: Nur Endana
- Sumber: kabaristana.com

Saat ini belum ada komentar