Kabasarnas Ungkap Alasan Operasi SAR Kecelakaan Pesawat ATR Ditutup
- account_circle Rahman
- calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
- visibility 401
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, kabaristana.com | Operasi pencarian dan pertolongan kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, berakhir pada hari ketujuh. Penghentian ini menandai akhir upaya intensif negara menemukan korban di wilayah berisiko tinggi.
Keputusan tersebut berdampak langsung pada keluarga korban yang masih menunggu kepastian identitas. Peristiwa ini kembali menyorot keterbatasan operasi penyelamatan di medan ekstrem.
Isu Keselamatan Penerbangan Jadi Sorotan
Kecelakaan pesawat di wilayah pegunungan kembali memicu perhatian publik. Risiko cuaca dan topografi kerap menghambat respons darurat. Insiden ini muncul di tengah tuntutan peningkatan standar keselamatan penerbangan nasional.
Publik menilai penanganan kecelakaan udara perlu evaluasi menyeluruh. Negara harus memastikan kesiapan alat, personel, dan koordinasi lintas lembaga.
Basarnas Nyatakan Operasi Selesai
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) RI, Mohammad Syafii, menyatakan operasi SAR telah selesai. Ia menyampaikan keputusan itu dalam konferensi pers di Makassar, Jumat malam.
Syafii menegaskan tim SAR gabungan telah bekerja maksimal sejak hari pertama. Tim menemukan sejumlah korban dalam berbagai kondisi.
Temuan Korban Diserahkan ke Tim DVI
Tim SAR menemukan tujuh kantong jenazah selama operasi berlangsung. Enam berisi jenazah utuh. Satu kantong berisi bagian tubuh korban.
Basarnas menyerahkan seluruh temuan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI). Sebelumnya, petugas mengirim empat kantong jenazah ke Posko DVI Biddokkes Polda Sulsel.
Tim DVI telah mengidentifikasi tiga korban. Petugas menyerahkan jenazah kepada keluarga. Satu korban masih menunggu hasil identifikasi.
Cuaca Buruk Hambat Proses Evakuasi
Cuaca ekstrem menjadi kendala utama di lapangan. Kabut tebal dan hujan menghambat mobilisasi personel. Medan terjal juga menyulitkan evakuasi.
Syafii menyebut kondisi tersebut memperlambat pencarian. Meski begitu, tim tetap menemukan korban secara bertahap hingga hari ketujuh.
Evakuasi Terbatas Masih Dimungkinkan
Basarnas membuka peluang evakuasi lanjutan secara terbatas. Langkah ini bergantung pada hasil koordinasi dengan tim DVI dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Syafii menekankan keselamatan personel tetap menjadi prioritas. Tim hanya akan bergerak jika kebutuhan lapangan mengharuskan.
Dampak bagi Keluarga dan Masyarakat
Penghentian operasi menutup fase pencarian. Namun, proses identifikasi masih berlanjut. Keluarga korban masih menunggu kepastian akhir.
Pemerintah daerah diharapkan memberi pendampingan psikososial. Publik kini menanti hasil investigasi KNKT untuk mencegah kecelakaan serupa.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: https://www.basarnas.go.id

Saat ini belum ada komentar