Tekanan Politik Keir Starmer Meningkat, Tegaskan Tak Mundur
- account_circle adrian moita
- calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
- visibility 209
- comment 0 komentar
- print Cetak

PM Inggris Keir Starmer menyampaikan pernyataan soal rencana pengakuan Negara Palestina dari Downing Street Nomor 10 di London, Selasa (29/7/2025)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
London, (kabaristana.com) — Tekanan politik Keir Starmer terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Meski menghadapi kritik dari internal partai dan oposisi, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan tetap bertahan dan menjalankan mandat kepemimpinannya.
Pada Senin (9/2/2026), Starmer menyampaikan sikap tersebut dalam pertemuan internal Partai Buruh. Ia menyampaikan pernyataan itu setelah seorang tokoh senior partai secara terbuka menyerukan pengunduran dirinya. “Saya berjuang keras untuk memperoleh mandat mengubah negara ini. Karena itu, saya akan menjalankan tanggung jawab tersebut,” ujar Starmer, seperti dikutip Channel News Asia, Selasa (10/2/2026).
Selama 19 bulan memimpin pemerintahan, Starmer menghadapi tantangan politik paling serius. Pada saat yang sama, hasil jajak pendapat menunjukkan dukungan publik terhadap Partai Buruh terus tertekan oleh dinamika politik nasional.
Tekanan Politik Keir Starmer Datang dari Internal Partai
Tekanan politik Keir Starmer menguat setelah pemimpin Partai Buruh Skotlandia, Anas Sarwar, secara terbuka meminta perubahan kepemimpinan. Menurut Sarwar, Starmer memikul tanggung jawab atas penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat.
Selain itu, Sarwar menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers di Glasgow. Dengan langkah tersebut, ia menjadi tokoh Partai Buruh paling senior yang secara terbuka menyerukan perubahan di Downing Street.
Dukungan Kabinet di Tengah Tekanan Politik Keir Starmer
Meski tekanan internal meningkat, sejumlah menteri kabinet tetap menyatakan dukungan kepada Starmer. Wakil Perdana Menteri David Lammy, Menteri Dalam Negeri Yvette Cooper, serta Menteri Keuangan Rachel Reeves menegaskan komitmen mereka mendukung perdana menteri.
Sementara itu, Angela Rayner dan Shabana Mahmood juga menyampaikan dukungan terbuka. Dengan demikian, Starmer masih mempertahankan soliditas kabinet meski tekanan politik terus berkembang.
Pergantian Ajudan dan Kritik Oposisi
Di sisi lain, situasi politik semakin rumit setelah dua ajudan utama Starmer mundur dalam dua hari berturut-turut. Kepala komunikasi Tim Allan meninggalkan jabatannya pada Senin pagi. Sehari sebelumnya, Kepala Staf Morgan McSweeney juga mundur setelah mengakui perannya dalam merekomendasikan penunjukan Mandelson.
Pada saat yang sama, kritik dari oposisi terus mengalir. Pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch menilai posisi Starmer semakin rapuh. Selain itu, pemimpin Reform UK Nigel Farage memprediksi masa jabatan Starmer tidak akan berlangsung lama.
Proses Hukum dan Agenda Politik ke Depan
Sementara itu, kepolisian Inggris terus menyelidiki Mandelson atas dugaan penyalahgunaan jabatan publik. Aparat menggeledah dua properti miliknya. Hingga kini, polisi belum melakukan penangkapan. Sebagai respons, Starmer menyampaikan permintaan maaf kepada para korban Jeffrey Epstein dan berjanji membuka dokumen terkait proses penunjukan Mandelson.
Ke depan, Partai Buruh akan menghadapi pemilihan sela pada 28 Februari serta pemilihan lokal pada Mei. Oleh karena itu, banyak pengamat menilai agenda tersebut sebagai ujian penting bagi stabilitas kepemimpinan Starmer. Adapun pemilihan umum nasional Inggris baru dijadwalkan berlangsung pada 2029.
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: duasatunews.com

Saat ini belum ada komentar