Kekerasan Politik di Kolombia Meningkat, Senator Nyaris Diculik Saat Presiden Laporkan Ancaman Pembunuhan
- account_circle Rahman
- calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
- visibility 131
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bendera kampanye Presiden Gustavo Petro terlihat dalam sebuah kegiatan politik di Kolombia. (REUTERS/STRINGER)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, kabaristana.com | Kekerasan politik Kolombia kembali memicu perhatian luas. Kali ini, pelaku kriminal mencoba menculik seorang anggota Senat di wilayah konflik Cauca. Pada saat yang sama, Presiden Kolombia melaporkan adanya ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Karena itu, publik kembali menyoroti lemahnya keamanan bagi pejabat negara.
Upaya Penculikan di Cauca
Sekelompok orang menghadang Aida Quilcue saat ia melintas di Cauca. Quilcue aktif menyuarakan hak masyarakat adat dan isu hak asasi manusia di parlemen. Oleh sebab itu, kasus ini langsung menyita perhatian nasional.
Cauca termasuk wilayah paling rawan di Kolombia. Daerah ini menjadi pusat produksi koka. Selain itu, kelompok kriminal dan bersenjata ilegal masih beroperasi di sejumlah titik. Kondisi tersebut sering memicu bentrokan bersenjata.
Peran Masyarakat Adat
Para pelaku meninggalkan kendaraan Quilcue bersama dua pengawalnya di pinggir jalan. Namun demikian, warga adat setempat segera menemukan Quilcue. Mereka lalu mengevakuasi korban ke tempat aman. Dengan langkah cepat itu, warga adat mencegah kemungkinan terburuk.
Langkah Aparat Keamanan
Polisi segera mendatangi lokasi kejadian. Selanjutnya, aparat menyisir area sekitar dan mengumpulkan keterangan saksi. Tim penyidik kini memburu pelaku dan menelusuri motif penculikan secara mendalam.
Wilayah Cauca terus menghadapi tekanan keamanan. Sementara itu, sejumlah kelompok bersenjata tetap menjalankan aktivitas meski pemerintah telah membubarkan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC). Perebutan wilayah dan jalur narkotika sering memicu serangan terhadap tokoh publik.
Dampak Politik dan Keamanan Nasional
Insiden ini memperkuat kekhawatiran tentang stabilitas politik nasional. Di satu sisi, pemerintah berupaya menjaga proses demokrasi tetap berjalan. Di sisi lain, kekerasan terhadap politisi berpotensi menurunkan kepercayaan publik. Pengamat menilai negara perlu memperkuat kehadiran aparat di wilayah rawan secara konsisten.
Ancaman terhadap Presiden
Pada waktu yang hampir bersamaan, Presiden Gustavo Petro menyampaikan laporan ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Akibatnya, isu keamanan pejabat tinggi negara kembali mencuat ke ruang publik.
Pemerintah berjanji memperketat pengamanan pejabat negara. Selain itu, otoritas meningkatkan operasi keamanan di wilayah konflik. Pada akhirnya, organisasi masyarakat sipil mendesak negara melindungi politisi, aktivis, dan warga sipil demi menjaga stabilitas demokrasi.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana

Saat ini belum ada komentar