Trump Singgung “Ambil Alih Kuba”, Ketegangan AS-Kuba Kembali Memanas
- account_circle Rahman
- calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
- visibility 163
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
WASHINGTON, (Kabaristana.com) | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memicu perhatian global setelah melontarkan pernyataan keras terkait Kuba. Ia menyebut kemungkinan mengambil peran terhadap negara tersebut, di tengah proses diplomasi yang sedang berlangsung.
Trump menyampaikan pernyataan itu langsung kepada wartawan di Gedung Putih. Ia menilai situasi di Kuba membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk bertindak.
“Saya melihat kemungkinan untuk mengambil peran terhadap Kuba dalam bentuk tertentu,” ujar Trump.
Trump Perkeras Sikap di Tengah Dialog
Pemerintah Amerika Serikat saat ini tetap menjalankan komunikasi dengan Kuba. Namun, pernyataan Trump justru menunjukkan sikap yang lebih agresif di tengah upaya diplomasi tersebut.
Sejumlah laporan media internasional menyebut pemerintah AS memberikan tekanan politik dalam pembicaraan bilateral. Washington dikabarkan menyoroti kepemimpinan Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, sebagai bagian dari negosiasi.
Di sisi lain, pemerintah Kuba menolak campur tangan asing. Díaz-Canel menegaskan bahwa negaranya hanya akan melanjutkan dialog yang menghormati kedaulatan dan sistem politik masing-masing.
Krisis Energi Perparah Kondisi Kuba
Kuba menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintah setempat mengurangi distribusi energi akibat terbatasnya pasokan minyak.
Penghentian pengiriman minyak dari Venezuela memperburuk kondisi tersebut. Akibatnya, pemerintah menerapkan penjatahan listrik di berbagai wilayah.
Gangguan pada jaringan listrik bahkan sempat membuat jutaan warga kehilangan akses listrik secara bersamaan. Kondisi ini memperlambat aktivitas ekonomi nasional.
AS Tetapkan Prioritas Global
Trump juga menegaskan bahwa pemerintahnya masih fokus pada isu global lain, termasuk konflik di Timur Tengah. Meski begitu, ia tetap membuka kemungkinan langkah lanjutan terhadap Kuba.
“Kami sedang berbicara dengan Kuba, tetapi kami akan menangani Iran terlebih dahulu,” kata Trump.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah AS mengatur prioritas strategis di berbagai kawasan, termasuk Amerika Latin.
Hubungan Lama yang Kembali Tegang
Amerika Serikat telah lama mengkritik sistem politik Kuba. Namun, Washington selama ini tetap menghindari intervensi militer langsung.
Kesepakatan setelah krisis rudal Kuba tahun 1962 menjadi salah satu dasar utama sikap tersebut. Hingga kini, pemerintah AS belum menjelaskan landasan hukum untuk tindakan yang lebih jauh.
Situasi Masih Berkembang
Pernyataan Trump memicu berbagai reaksi dari pengamat internasional. Banyak pihak menilai ucapan tersebut sebagai bagian dari strategi tekanan politik.
Meski begitu, situasi hubungan AS dan Kuba masih sangat dinamis. Kedua negara masih memiliki peluang untuk melanjutkan dialog, meskipun tensi terus meningkat.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: The New York Times



Saat ini belum ada komentar