TEHERAN, (Kabaristana.com) | Iran menuntut Amerika Serikat membayar kompensasi atas kerusakan akibat serangan militer serta menarik seluruh pasukannya dari kawasan Teluk Persia sebagai syarat utama untuk menghentikan konflik yang terus meningkat.
Anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan tuntutan tersebut dalam wawancara dengan stasiun televisi Iran SNN pada Sabtu. Ia menegaskan Iran hanya akan mempertimbangkan penghentian konflik jika Washington memenuhi dua syarat utama yang dianggap penting bagi keamanan negara itu.
Rezaei menjelaskan bahwa Iran meminta kompensasi penuh atas kerusakan yang muncul akibat serangan militer Amerika Serikat. Selain itu, pemerintah Iran juga menuntut jaminan keamanan agar serangan serupa tidak kembali terjadi.
Menurutnya, jaminan keamanan tersebut hanya dapat tercapai jika Amerika Serikat menarik seluruh pasukan militernya dari kawasan Teluk Persia.
“Penghentian perang hanya bisa dipertimbangkan jika Iran menerima kompensasi atas seluruh kerusakan dan mendapatkan jaminan keamanan nyata. Hal itu hanya dapat terwujud jika Amerika Serikat menarik pasukannya dari Teluk Persia,” kata Rezaei.
Iran Minta Negara Timur Tengah Tutup Pangkalan AS
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, sebelumnya juga menyampaikan seruan kepada negara-negara Timur Tengah. Ia meminta negara-negara di kawasan itu menutup pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di wilayah mereka.
Dalam pernyataan pada Kamis (12/3), Mojtaba Khamenei menilai keberadaan pangkalan militer AS memperbesar ketegangan regional. Ia juga mendesak pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap Iran agar membayar ganti rugi atas kerusakan yang terjadi.
Seruan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran di satu sisi dan Amerika Serikat serta Israel di sisi lain.
Serangan Militer Picu Eskalasi Konflik
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Operasi tersebut menyasar beberapa fasilitas strategis, termasuk lokasi di ibu kota Teheran.
Serangan itu merusak sejumlah infrastruktur dan menimbulkan korban sipil. Pemerintah Iran mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai agresi yang melanggar hukum internasional.
Sebagai balasan, militer Iran meluncurkan serangan terhadap wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran banyak pihak karena konflik berpotensi meluas di kawasan yang memiliki peran penting dalam jalur perdagangan energi global.
AS dan Israel Singgung Perubahan Kekuasaan Iran
Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menyatakan serangan militer itu sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman yang mereka kaitkan dengan program nuklir Iran.
Namun, sejumlah pernyataan pejabat kedua negara juga menyinggung kemungkinan perubahan kepemimpinan di Iran sebagai bagian dari tujuan strategis mereka.
Pemerintah Iran menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kepentingan sipil.
Iran Tetapkan Masa Berkabung Nasional
Konflik tersebut juga memicu perubahan besar dalam kepemimpinan Iran. Pada hari pertama operasi militer AS-Israel, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas.
Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari untuk menghormati pemimpin yang telah lama memegang pengaruh besar dalam politik negara tersebut.
Di tengah masa berkabung dan situasi keamanan yang masih tegang, pemerintah Iran terus menyuarakan tuntutan agar Amerika Serikat bertanggung jawab atas dampak konflik.
Hingga saat ini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan kompensasi maupun permintaan penarikan pasukan dari Teluk Persia.


En uygun fiyatlı hacklink paketleri ile tanışın. Web sitenizin arama motoru sıralamalarını hızlıca yükseltecek backlink çözümleri. 4030
15 Maret 2026 8:55 pm