Pemerintah Siapkan Langkah Benahi Tata Niaga Gula, Meski Produksi Masih Kurang
- account_circle Rahman
- calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
- visibility 118
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (Kabaristana.com) || Pemerintah kini mempercepat pembenahan tata niaga gula nasional. Langkah ini diambil karena pasokan dalam negeri masih belum memenuhi kebutuhan.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan pemerintah tetap mempertahankan kebijakan batas harga. Menurutnya, kebijakan ini menjaga keseimbangan antara petani dan konsumen.
Ia menjelaskan, pemerintah menetapkan harga batas bawah untuk melindungi petani. Sementara itu, pemerintah juga menetapkan harga batas atas agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Dengan demikian, pemerintah berupaya menjaga stabilitas pasar secara menyeluruh.
Selain Harga, Produktivitas Jadi Faktor Penentu
Selain harga, Sudaryono menilai produktivitas memegang peran penting. Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya fokus pada harga jual.
Ia mencontohkan sektor padi. Saat pemerintah menaikkan harga dasar dan meningkatkan produktivitas, pendapatan petani ikut meningkat. Karena itu, pemerintah ingin menerapkan pendekatan yang sama pada tebu.
Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap produksi gula nasional bisa meningkat secara signifikan.
Namun, Masalah Serapan Gula Masih Terjadi
Namun demikian, Sudaryono menemukan masalah di lapangan. Ia melihat gula hasil produksi petani belum terserap secara optimal.
Padahal, Indonesia masih mengalami kekurangan gula. Kondisi ini dinilai sebagai paradoks.
“Barang kurang, tetapi tidak terserap. Karena itu, masalah ini harus segera kita benahi,” ujarnya.
Selanjutnya, pemerintah akan fokus pada solusi jangka pendek dan jangka panjang. Selain itu, pemerintah juga akan memperbaiki distribusi dan sistem produksi tebu.
Di Sisi Lain, Petani Soroti Harga yang Kurang Menarik
Di sisi lain, Ketua Umum APTRI, Soemitro Samadikoen, menilai harga gula belum menarik bagi petani.
Ia menyebut biaya produksi sudah cukup tinggi. Namun, pemerintah masih membatasi harga jual. Akibatnya, petani hanya memperoleh margin tipis.
Karena kondisi tersebut, banyak petani beralih ke padi. Mereka menilai padi memberikan keuntungan yang lebih stabil.
Oleh sebab itu, APTRI mendorong pemerintah memberi ruang lebih besar kepada mekanisme pasar. Dengan begitu, petani diharapkan kembali tertarik menanam tebu.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda



Saat ini belum ada komentar