Sebut Ketergantungan pada PLN Bukan Lagi Pilihan Bijak, Tokoh Muda Al Washliyah Beberkan 5 Opsi Mandiri Energi
- account_circle Rahman
- calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
- visibility 92
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto : Amaluddin Hasibuan, S.Pd.,Wakil Sekretaris Gerakan Pemuda Al Washliyah (GP Al Washliyah) Sumatera Utara.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MEDAN, (kabaristana.com) – Pemadaman listrik total (blackout) yang melumpuhkan aktivitas warga di empat provinsi memicu kritik dari berbagai elemen masyarakat. Peristiwa ini menjadi alarm bagi masyarakat Indonesia untuk mulai membangun kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan pada PLN.
Amaluddin Hasibuan, S.Pd., akademisi sekaligus Wakil Sekretaris GP Al Washliyah Sumatera Utara, menyampaikan pandangan tersebut. Menurutnya, ketergantungan pada satu sumber energi tidak lagi relevan di tengah fluktuasi tarif dan ancaman pemadaman massal.
“Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Namun, masyarakat masih bergantung pada PLN yang sebagian besar pasokan listriknya berasal dari batu bara. Padahal, teknologi energi alternatif untuk rumah tangga kini semakin mudah diperoleh,” kata Amaluddin, Minggu (24/5/2026).
Lima Energi Alternatif untuk Rumah Tangga
Amaluddin menilai lima sumber energi alternatif layak menjadi pilihan masyarakat. Masing-masing memiliki kelebihan, biaya investasi, dan tingkat kelayakan yang berbeda.
1. Energi Surya (PLTS Atap)
PLTS atap menjadi pilihan paling realistis bagi masyarakat perkotaan. Biaya pemasangan berkisar Rp15 juta hingga Rp40 juta untuk kapasitas 1–3 kWp.
Indonesia menerima radiasi matahari rata-rata 4,8 kWh per meter persegi setiap hari. Kondisi ini mendukung penggunaan panel surya secara luas. Amaluddin menyarankan penggunaan sistem hybrid dengan baterai lithium agar listrik tetap tersedia saat terjadi pemadaman.
2. Biogas Domestik
Biogas cocok diterapkan di daerah pinggiran dan pedesaan. Sistem ini memanfaatkan limbah organik atau kotoran ternak untuk menghasilkan gas memasak dan listrik.
Biaya pembangunan digester berkisar Rp5 juta hingga Rp15 juta. Selain menghemat biaya energi, sistem ini juga membantu mengurangi emisi metana.
3. Mikro dan Pico Hydro
Teknologi ini memanfaatkan aliran air yang memiliki tinggi jatuh minimal dua hingga tiga meter. Warga yang tinggal di sekitar irigasi atau kawasan pegunungan dapat memanfaatkan sumber energi ini.
Mikro hidro menghasilkan listrik secara stabil dengan biaya operasional yang relatif rendah.
4. Energi Angin
Turbin angin skala kecil belum menjadi pilihan utama di Medan dan sekitarnya. Kecepatan angin di wilayah tersebut cenderung tidak stabil.
Karena itu, masyarakat sebaiknya menggunakan energi angin sebagai pelengkap sistem energi surya.
5. Geothermal dan Energi Laut
Teknologi geothermal dan energi laut memiliki potensi besar. Namun, kebutuhan modal dan regulasinya membuat teknologi ini hanya cocok untuk skala industri.
Tiga Alasan Membangun Kedaulatan Energi Rumah
Amaluddin menekankan bahwa energi alternatif bukan sekadar tren ramah lingkungan. Masyarakat perlu mengadopsinya untuk memperkuat ketahanan energi keluarga.
Ketahanan Domestik
Rumah tangga dapat menjaga pasokan listrik secara mandiri. Langkah ini juga mengurangi risiko kerugian akibat pemadaman listrik.
Efisiensi Ekonomi
Energi alternatif membantu menekan pengeluaran listrik dalam jangka panjang. Investasi awal memang cukup besar, tetapi manfaatnya dapat dirasakan selama bertahun-tahun.
Dampak Lingkungan
Pemanfaatan energi terbarukan membantu mengurangi emisi karbon. Langkah ini mendukung upaya mengatasi perubahan iklim.
“Untuk wilayah perkotaan seperti Medan, masyarakat dapat memulai investasi pada PLTS atap hybrid berkapasitas 2–5 kWp. Sementara itu, warga di daerah pinggiran dapat mengombinasikan energi surya dengan biogas atau mikro hidro. Teknologi tersebut sudah tersedia dan semakin terjangkau,” ujar Amaluddin.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: Tim Redaksi



Saat ini belum ada komentar