Ketahanan Pangan Nasional Jadi Fokus BI, GPIPS dan Insentif KLM Diperkuat untuk Kendalikan Inflasi
- account_circle Retanto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto : Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali menghadiri konferensi bertema ketahanan pangan nasional di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (Kabaristana.com) – Ketahanan pangan nasional menjadi salah satu fokus utama pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi. Bank Indonesia memperkuat Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) serta memberikan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Langkah tersebut bertujuan menjaga pasokan pangan, menstabilkan harga, dan mengendalikan inflasi sesuai target.
Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali mengatakan stabilitas pasokan dan harga pangan berperan penting dalam melindungi daya beli masyarakat. Menurutnya, inflasi yang terkendali akan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ketahanan pangan yang kuat menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga stabilitas harga. Dengan demikian, daya beli masyarakat dapat terjaga dan aktivitas ekonomi tetap berjalan dengan baik,” ujarnya dalam seminar bertema Ketahanan Pangan untuk Indonesia Emas di Jakarta, Rabu.
BI Optimalkan GPIPS untuk Menjaga Stabilitas Harga Pangan
Ricky menjelaskan bahwa BI terus mendorong peningkatan produktivitas sektor pangan. BI juga memperlancar distribusi dan menjaga kestabilan harga melalui implementasi GPIPS.
Selain itu, BI mengarahkan insentif KLM untuk meningkatkan pembiayaan pada sektor pertanian, industri pengolahan, dan hilirisasi pangan.
Ricky menilai situasi global masih menjadi tantangan bagi ketahanan pangan nasional. Fluktuasi harga komoditas dunia, pembatasan ekspor, serta kenaikan biaya logistik dapat memengaruhi pasokan pangan dalam negeri.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga meningkatkan biaya impor pangan dan sarana produksi pertanian. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat ketahanan pangan seiring dengan upaya menjaga stabilitas ekonomi.
Inovasi Pertanian Jadi Kunci Hadapi Perubahan Iklim
Kepala BRIN Arif Satria menekankan pentingnya inovasi pertanian untuk menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, komoditas volatile food sangat rentan terhadap perubahan cuaca dan musim.
BRIN telah mengembangkan sejumlah varietas padi unggul dengan produktivitas tinggi. Varietas tersebut mampu bertahan terhadap banjir, kekeringan, dan lahan berkadar garam tinggi. Inovasi ini diharapkan mendukung swasembada pangan menuju Indonesia Emas 2045.
“Ketersediaan benih unggul yang adaptif terhadap cuaca ekstrem akan membantu menjaga stabilitas pasokan pangan dan meminimalkan risiko lonjakan harga,” kata Arif.
Bapanas dan Kadin Perkuat Sinergi Pasokan Pangan
Ketua Tim Kerja Stabilisasi Pasokan Pangan Bapanas Yudhi Harsatriadi Sandyatma mengatakan pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan BI melalui TPIP dan TPID. Kerja sama tersebut bertujuan menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.
Hingga awal Juni 2026, Bapanas telah menggelar lebih dari 5.200 Gerakan Pangan Murah di 36 provinsi. Selain itu, Bapanas telah mengoperasikan 2.890 Kios Pangan di berbagai daerah.
Dunia usaha juga mendukung penguatan ketahanan pangan nasional. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pangan Kadin Indonesia Mulyadi Jayabaya menegaskan komitmen pihaknya untuk memperkuat rantai pasok domestik.
Kadin juga mendorong harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah. Langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif di sektor pangan.
“Kami datang membawa solusi, investasi, dan kesiapan untuk bergerak bersama,” ujar Mulyadi.
Kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, lembaga riset, dan pelaku usaha menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Sinergi tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas harga pangan, mengendalikan inflasi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
- Penulis: Retanto
- Editor: Wilda



Saat ini belum ada komentar