Israel Kirim Pasukan ke Kompleks Al-Aqsa Jelang Ramadan, Ada Apa?
- account_circle Rahman
- calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
- visibility 120
- comment 0 komentar
- print Cetak

Aparat keamanan Israel berjaga di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur, menjelang Ramadan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, kabaristana.com | Israel meningkatkan kehadiran aparat keamanan di sekitar Masjid Al-Aqsa menjelang Ramadan. Kebijakan ini memicu kekhawatiran pembatasan ibadah dan berpotensi memperbesar ketegangan di Yerusalem Timur.
Ramadan selalu membawa lonjakan jamaah Muslim ke Al-Aqsa. Setiap perubahan pengaturan keamanan di kawasan ini berdampak langsung pada hak beribadah. Situasi menjadi sensitif karena Al-Aqsa berada di Yerusalem Timur, wilayah yang Israel duduki sejak 1967 dan masih disengketakan.
Alasan Israel Tingkatkan Pengamanan
Pemerintah Israel menyatakan pengerahan aparat bertujuan menjaga ketertiban. Perwira polisi senior Yerusalem, Arad Braverman, mengatakan kepolisian akan berjaga siang dan malam di dalam kompleks dan area sekitarnya. Polisi juga akan mengerahkan ribuan personel saat salat Jumat. Selain itu, kepolisian merekomendasikan penerbitan sekitar 10.000 izin masuk bagi warga Palestina dari Tepi Barat. Braverman tidak menjelaskan soal batasan usia dan menyerahkan keputusan akhir kepada pemerintah.
Bantahan dan Tuduhan dari Otoritas Palestina
Pemerintah Palestina di Yerusalem menyampaikan bantahan. Mereka menyebut Israel kembali membatasi izin masuk berdasarkan usia, yakni pria di atas 55 tahun dan perempuan di atas 50 tahun, seperti Ramadan sebelumnya. Otoritas Palestina juga menuding Israel menghambat Waqf Islam melakukan persiapan rutin. Mereka menyebut aparat melarang pemasangan tenda peneduh dan pendirian klinik medis sementara. Seorang sumber Waqf mengungkapkan bahwa otoritas Israel melarang puluhan stafnya memasuki kompleks menjelang Ramadan.
Kekhawatiran Publik dan Risiko Lapangan
Bagi warga Palestina, Al-Aqsa berfungsi sebagai pusat ibadah sekaligus simbol identitas nasional. Peningkatan penjagaan dan pembatasan akses berisiko memicu keresahan. Kondisi ini juga membuka peluang bentrokan, terutama saat jumlah jamaah meningkat tajam.
Israel kembali menegaskan komitmen mempertahankan status quo. Aturan lama memperbolehkan warga Yahudi mengunjungi kawasan tersebut tanpa berdoa. Namun, warga Palestina menilai praktik di lapangan terus berubah. Kekhawatiran ini meningkat seiring aktivitas kelompok ultranasionalis Yahudi. Politisi sayap kanan seperti Itamar Ben-Gvir sebelumnya secara terbuka menantang larangan berdoa di kompleks tersebut.
Menjelang Ramadan, kebijakan keamanan di Al-Aqsa kembali menjadi sorotan internasional. Cara Israel mengatur akses dan pengamanan akan menentukan apakah bulan suci ini berjalan tenang atau justru memicu eskalasi baru di Yerusalem Timur.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
- Sumber: https://www.france24.com/en/middle-east/

Saat ini belum ada komentar